JAKARTA – NAMANYA mungkin tidak sefamiliar nama-nama besar lain dalam sejarah republik. Tapi kalau kamu pernah berobat ke Puskesmas, pernah mengantarkan anak imunisasi, atau pernah mengandalkan klinik kecamatan sebagai pintu pertama layanan kesehatan, kamu sedang menikmati warisan dari seorang pria yang bahkan tidak punya jas sendiri saat harus menemui diplomat asing.
Namanya Dr. Johannes Leimena. Ia lahir pada 6 Maret 1905 di Ambon, Maluku. Belajar kedokteran, lalu bekerja di Rumah Sakit Zending Immanuel di Bandung. Di sinilah perjalanan hidupnya mulai meninggalkan jejak yang panjang.
Ketika Indonesia baru saja merdeka dan republik ini masih belajar berdiri di atas kakinya sendiri, Leimena dipercaya menjadi Menteri Muda Kesehatan dalam Kabinet Sjahrir II pada 1946.
Sejak saat itu, ia tidak pergi dari pusat pemerintahan. Ia tercatat duduk dalam 18 kabinet berbeda, delapan di antaranya sebagai Menteri Kesehatan, dengan masa pengabdian yang berlangsung sekitar dua puluh tahun.
Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri dan beberapa kali dipercaya sebagai pejabat presiden pada periode 1961–1965. Institut Leimena mencatat bahwa ia adalah salah satu tokoh yang paling lama mengabdi dalam sistem pemerintahan Indonesia.
Tapi yang paling mengena dari perjalanan hidupnya bukan angka-angka itu.
Saat menjabat sebagai menteri, Leimena pernah harus mewakili Indonesia dalam pertemuan penting dengan diplomat asing. Ia tidak punya jas yang pantas untuk acara formal.
Maka ia meminjam jas dan dasi dari temannya. Seorang menteri negara, salah satu orang paling dipercaya Soekarno, meminjam jas karena memang tidak punya.
Hari ini cerita itu terdengar seperti dongeng.
Sementara di sisi lain, Leimena tidak pernah diam dari kerja nyata. Ketika banyak politisi sibuk dengan perebutan pengaruh, ia justru berpikir tentang satu masalah yang sangat dekat dengan rakyat kecil: layanan kesehatan terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.
Rumah sakit besar ada di kota, tapi desa-desa butuh layanan yang lebih dekat. Rakyat tidak bisa selalu menunggu sakit parah dulu baru mendapat pertolongan.
Dari kegelisahan itulah muncul gagasan yang ia presentasikan pada tahun 1952, yang dikenal sebagai Bandung Plan atau Leimena Plan.
Gagasannya mencakup pembangunan fasilitas kesehatan secara berjenjang, dari rumah sakit pusat di kota hingga pos kesehatan di desa terpencil, dengan menggabungkan pengobatan dan pencegahan dalam satu sistem.
Bukan hanya mengobati orang sakit, tapi membangun kebiasaan agar rakyat tidak mudah sakit. Rumah Sakit Immanuel Bandung menjadi pusat percontohan pertamanya.
Hasilnya mulai terasa. Angka kematian ibu dan anak berhasil ditekan dari 22 persen pada 1951 menjadi 11,8 persen pada 1955. Ia juga mendirikan Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak untuk memperkuat gizi ibu dan anak di seluruh pelosok.
Sayangnya, Bandung Plan tidak sempat diterapkan sepenuhnya di era Soekarno karena keterbatasan anggaran dan jumlah dokter yang masih sangat sedikit.
Gagasan itu baru dihidupkan kembali pada 1968 oleh Menteri Kesehatan Gerrit Augustinus Siwabessy di era Presiden Soeharto, lalu resmi masuk dalam program Pembangunan Lima Tahun atau Pelita. Itulah cikal bakal Puskesmas yang kita kenal sampai sekarang.
Bangunan sederhana di sudut kecamatan itu menyimpan jejak pemikiran seorang dokter yang percaya bahwa negara harus hadir sedekat mungkin dengan rakyat.
Leimena juga dikenal sebagai orang paling dipercaya Soekarno, meski keduanya berbeda latar belakang agama.
Di era ketika identitas sering memicu gesekan dan politisi mudah berubah arah ketika angin berbalik, kepercayaan itu dibangun bukan dari kesamaan, melainkan dari integritas yang tidak bisa dibeli.
Ketika masa transisi politik 1965 tiba dan banyak orang dari lingkaran Soekarno mulai disingkirkan, Leimena termasuk sedikit menteri yang tidak ditangkap.
Ia masih dipercaya masuk Dewan Pertimbangan Agung hingga 1973, bahkan setelah tidak lagi menjabat sebagai menteri.
Ini yang membedakan pejabat dari negarawan. Pejabat bisa selesai ketika kursinya diambil. Negarawan tetap dikenang bahkan setelah jabatannya habis. Leimena tidak meninggalkan cerita tentang kekayaan besar. Yang ia tinggalkan adalah sistem yang masih dipakai jutaan orang setiap hari.
Ia wafat pada 29 Maret 1977 di Jakarta. Pada 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 52/TK/2010.
Puskesmas mungkin sering tampak biasa. Antrinya panjang, fasilitasnya tidak selalu lengkap, pelayanannya tidak selalu sempurna. Tapi bagi jutaan orang Indonesia, ia tetap menjadi pintu pertama untuk berobat, untuk imunisasi, untuk periksa kehamilan, untuk cek tumbuh kembang anak.
Di balik dinding sederhana itu, ada jejak seorang menteri yang tidak punya jas sendiri tapi punya gagasan besar untuk kesehatan rakyatnya.
Jabatan bukan tempat menumpuk harta. Jabatan adalah alat untuk membangun sistem yang membuat hidup rakyat lebih ringan. Leimena sudah membuktikannya. Pertanyaannya, pejabat hari ini meninggalkan apa? (*/Tim LembataNews)







