LEWOLEBA – FESTIVAL Internasional Lamaholot 2026 siap digelar selama empat hari, mulai 1 hingga 4 Juli 2026, di Pantai Wulen Luo, Kabupaten Lembata. Beragam agenda budaya, pameran ekonomi kreatif, pertunjukan seni, hingga kunjungan ke desa-desa wisata telah disiapkan untuk menyambut wisatawan domestik maupun mancanegara.
Hari pertama, Rabu, 1 Juli 2026, diawali dengan pameran UMKM dan tenun yang melibatkan para pelaku ekonomi kreatif sejak pukul 08.00 WITA. Sore harinya, festival dibuka melalui grand opening dan Karnaval Budaya Lamaholot yang dimulai dari Taman Kota Swaolsa menuju Pantai Wulen Luo.
Karnaval tersebut diikuti komunitas Lamaholot dari Flores Timur, Alor, sembilan kecamatan di Lembata, instansi pemerintah, swasta, BUMN, serta berbagai paguyuban etnis. Iringan musik suling, gambus, gong, dan tarian perang Hedung akan menyambut para peserta sebelum memasuki lokasi utama festival.
Malam pembukaan turut dihadiri Pemerintah Provinsi NTT, para bupati dari wilayah budaya Lamaholot, serta perwakilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pembukaan resmi ditandai dengan tiupan buri atau cangkang siput bersama, sekaligus penyerahan Piagam KEN kepada Pemerintah Kabupaten Lembata.
Berbagai pertunjukan seni seperti Tari Dolo-Dolo dari Flores Timur, Tari Lego-Lego dari Alor, tarian kolosal Lamaholot, fashion show etnik, hingga pentas Sole Oha massal akan memeriahkan malam pertama.
Memasuki hari kedua, Kamis, 2 Juli 2026, kegiatan difokuskan pada eksplorasi budaya melalui post tour ke Desa Wisata Atakore dan Lusilame. Rombongan wisatawan akan menikmati tarian penyambutan Holo Beba, mengunjungi dapur alam geothermal Karun Watuwawer, menyaksikan aktivitas tenun, kerajinan anyaman lontar, serta mencicipi kuliner khas masyarakat setempat.
Wisatawan juga diajak menjelajahi kampung adat Lewogolen, menikmati atraksi permainan rakyat Gese dan Erak, serta pertunjukan tarian tradisional Dua Bolo. Pada malam harinya, panggung utama di Pantai Wulen Luo kembali diisi pentas seni dari sejumlah desa wisata dan paguyuban dari Manggarai dan Ende.
Sementara itu, Jumat, 3 Juli 2026, agenda post tour berlanjut ke komunitas Lamaholot Ile Ape di Desa Muruona dan Lamagute. Para peserta akan menyaksikan budaya Muro, penanaman mangrove, proses pembuatan garam tradisional Bihu Sia, hingga mendaki tangga seribu menuju Kampung Adat Watun Lewopito. Di kampung adat tersebut, wisatawan akan mengikuti ritual adat Utan Wuun Lolon, mengunjungi rumah adat suku, menyaksikan tenun ikat khas Ile Ape, menikmati sajian kuliner lokal, serta pertunjukan tari tradisional masyarakat setempat.
Malam ketiga festival diisi dengan pentas musik etnik Lamaholot dan pertunjukan budaya dari Desa Watodiri, Ile Kerbau, serta paguyuban Sikka dan Rote.
Puncak kegiatan berlangsung pada Sabtu, 4 Juli 2026. Selain pameran UMKM dan tenun, rangkaian penutupan menghadirkan tari dari Paguyuban Sumba, fashion show modifikasi karya Sanggar Nubagere, pentas budaya Paguyuban Bajawa, serta atraksi Barakat Lembata.
Bupati Lembata dijadwalkan menutup secara resmi Festival Internasional Lamaholot 2026 pada pukul 18.30 WITA, dilanjutkan makan malam bersama, kunjungan stan pameran, dan tarian kolosal Sole Oha dan Dolo yang akan menjadi penanda berakhirnya perhelatan budaya tersebut.
Festival Internasional Lamaholot 2026 diharapkan tidak hanya menjadi panggung pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat promosi desa wisata, ekonomi kreatif, dan identitas masyarakat Lamaholot di mata dunia. (*/Tim LembataNews)







