Rabu, Juni 3, 2026
  • Tentang Kami
  • Advertise
  • Careers
  • Contact
Lembata News
  • Home
  • Hukrim
  • Polkam
  • Travel
  • Ekbis
  • Humaniora
  • Sport
  • Nasional
  • Dunia
  • Life Style
  • Login
No Result
View All Result
Lembata News
No Result
View All Result
Home Headline

18 Kali Duduk di Kabinet, Menteri ini Tak Punya Jas dan Dasi Sendiri

LembataNews by LembataNews
Juni 3, 2026
in Headline, Polkam
0
18 Kali Duduk di Kabinet, Menteri ini Tak Punya Jas dan Dasi Sendiri
0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA – NAMANYA mungkin tidak sefamiliar nama-nama besar lain dalam sejarah republik. Tapi kalau kamu pernah berobat ke Puskesmas, pernah mengantarkan anak imunisasi, atau pernah mengandalkan klinik kecamatan sebagai pintu pertama layanan kesehatan, kamu sedang menikmati warisan dari seorang pria yang bahkan tidak punya jas sendiri saat harus menemui diplomat asing.

Namanya Dr. Johannes Leimena. Ia lahir pada 6 Maret 1905 di Ambon, Maluku. Belajar kedokteran, lalu bekerja di Rumah Sakit Zending Immanuel di Bandung. Di sinilah perjalanan hidupnya mulai meninggalkan jejak yang panjang.

Related posts

Peserta Mancing dari Australia dan Timor Leste Puji Potensi Laut Lembata

Peserta Mancing dari Australia dan Timor Leste Puji Potensi Laut Lembata

Mei 24, 2026
Sapi Kurban Presiden, Gubernur, dan Pemda Lembata Diserahkan di 3 Masjid Jelang Idul Adha 1447 H

Sapi Kurban Presiden, Gubernur, dan Pemda Lembata Diserahkan di 3 Masjid Jelang Idul Adha 1447 H

Mei 22, 2026

Ketika Indonesia baru saja merdeka dan republik ini masih belajar berdiri di atas kakinya sendiri, Leimena dipercaya menjadi Menteri Muda Kesehatan dalam Kabinet Sjahrir II pada 1946.

Sejak saat itu, ia tidak pergi dari pusat pemerintahan. Ia tercatat duduk dalam 18 kabinet berbeda, delapan di antaranya sebagai Menteri Kesehatan, dengan masa pengabdian yang berlangsung sekitar dua puluh tahun.

Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri dan beberapa kali dipercaya sebagai pejabat presiden pada periode 1961–1965. Institut Leimena mencatat bahwa ia adalah salah satu tokoh yang paling lama mengabdi dalam sistem pemerintahan Indonesia.

Tapi yang paling mengena dari perjalanan hidupnya bukan angka-angka itu.

Saat menjabat sebagai menteri, Leimena pernah harus mewakili Indonesia dalam pertemuan penting dengan diplomat asing. Ia tidak punya jas yang pantas untuk acara formal.

Maka ia meminjam jas dan dasi dari temannya. Seorang menteri negara, salah satu orang paling dipercaya Soekarno, meminjam jas karena memang tidak punya.

Hari ini cerita itu terdengar seperti dongeng.

Sementara di sisi lain, Leimena tidak pernah diam dari kerja nyata. Ketika banyak politisi sibuk dengan perebutan pengaruh, ia justru berpikir tentang satu masalah yang sangat dekat dengan rakyat kecil: layanan kesehatan terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.

Rumah sakit besar ada di kota, tapi desa-desa butuh layanan yang lebih dekat. Rakyat tidak bisa selalu menunggu sakit parah dulu baru mendapat pertolongan.

Dari kegelisahan itulah muncul gagasan yang ia presentasikan pada tahun 1952, yang dikenal sebagai Bandung Plan atau Leimena Plan.

Gagasannya mencakup pembangunan fasilitas kesehatan secara berjenjang, dari rumah sakit pusat di kota hingga pos kesehatan di desa terpencil, dengan menggabungkan pengobatan dan pencegahan dalam satu sistem.

Bukan hanya mengobati orang sakit, tapi membangun kebiasaan agar rakyat tidak mudah sakit. Rumah Sakit Immanuel Bandung menjadi pusat percontohan pertamanya.

Hasilnya mulai terasa. Angka kematian ibu dan anak berhasil ditekan dari 22 persen pada 1951 menjadi 11,8 persen pada 1955. Ia juga mendirikan Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak untuk memperkuat gizi ibu dan anak di seluruh pelosok.

Sayangnya, Bandung Plan tidak sempat diterapkan sepenuhnya di era Soekarno karena keterbatasan anggaran dan jumlah dokter yang masih sangat sedikit.

Gagasan itu baru dihidupkan kembali pada 1968 oleh Menteri Kesehatan Gerrit Augustinus Siwabessy di era Presiden Soeharto, lalu resmi masuk dalam program Pembangunan Lima Tahun atau Pelita. Itulah cikal bakal Puskesmas yang kita kenal sampai sekarang.

Bangunan sederhana di sudut kecamatan itu menyimpan jejak pemikiran seorang dokter yang percaya bahwa negara harus hadir sedekat mungkin dengan rakyat.

Leimena juga dikenal sebagai orang paling dipercaya Soekarno, meski keduanya berbeda latar belakang agama.

Di era ketika identitas sering memicu gesekan dan politisi mudah berubah arah ketika angin berbalik, kepercayaan itu dibangun bukan dari kesamaan, melainkan dari integritas yang tidak bisa dibeli.

Ketika masa transisi politik 1965 tiba dan banyak orang dari lingkaran Soekarno mulai disingkirkan, Leimena termasuk sedikit menteri yang tidak ditangkap.

Ia masih dipercaya masuk Dewan Pertimbangan Agung hingga 1973, bahkan setelah tidak lagi menjabat sebagai menteri.

Ini yang membedakan pejabat dari negarawan. Pejabat bisa selesai ketika kursinya diambil. Negarawan tetap dikenang bahkan setelah jabatannya habis. Leimena tidak meninggalkan cerita tentang kekayaan besar. Yang ia tinggalkan adalah sistem yang masih dipakai jutaan orang setiap hari.

Ia wafat pada 29 Maret 1977 di Jakarta. Pada 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 52/TK/2010.

Puskesmas mungkin sering tampak biasa. Antrinya panjang, fasilitasnya tidak selalu lengkap, pelayanannya tidak selalu sempurna. Tapi bagi jutaan orang Indonesia, ia tetap menjadi pintu pertama untuk berobat, untuk imunisasi, untuk periksa kehamilan, untuk cek tumbuh kembang anak.

Di balik dinding sederhana itu, ada jejak seorang menteri yang tidak punya jas sendiri tapi punya gagasan besar untuk kesehatan rakyatnya.

Jabatan bukan tempat menumpuk harta. Jabatan adalah alat untuk membangun sistem yang membuat hidup rakyat lebih ringan. Leimena sudah membuktikannya. Pertanyaannya, pejabat hari ini meninggalkan apa? (*/Tim LembataNews)

Previous Post

Halal Bihalal Lebewala, Merawat Persaudaraan di Tengah Keberagaman

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED NEWS

Petugas Pelayanan Teknik (Yantek) melakukan pengecekan instalasi listrik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Srondol Wetan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

Pastikan Kelistrikan Andal, PLN Siap Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

1 tahun ago
Kanis Tuaq - Muhamad Nasir saat berada di atsa panggung kampanye akbar di Pantai Wulenluo. Paket dengan tagline Nelayan Tani Ternak (NTT) ini bertekad menyejahterakan masyarakat lewat ekonomi hijau dan ekonomi biru (pertanian dan kelautan).

15 Ribu Peserta Kampanye Akbar Harus Jadi Kunci Kemenangan Paket Tunas

2 tahun ago
Rudal hipersonik Iran Fattah menggempur Israel.

Keganasan Rudal Hipersonik Iran Fattah Tembus Iron Dome Israel

2 tahun ago
Manajer PLN UPP Nusra III Kasirun foto bersama Penjabat Bupati Lembata Paskalis Ola Tapobali, Pimpinan dan anggota DPRD, pimpinan OPD, pimpinan organisasi vertikal, Forkopimda saat ekspose rencana pembangunan PLTP Atadei di ruang rapat Bupati Lembata, Rabu (12/6/2024).

PLN Ekspose Rencana Bangun PLTP Atadei Berkapasitas 10 Megawatt

2 tahun ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Dunia
  • Editorial
  • Ekbis
  • Headline
  • Hukrim
  • Humaniora
  • Life Style
  • Nasional
  • Polkam
  • Sport
  • Travel
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

#Business #Delivery #Investment #Planning #Services #Solution #Wise 2018 League Balinese Culture Bali United Budget Travel Champions League Chopper Bike Doctor Terawan Istana Negara Market Stories National Exam Visit Bali

POPULAR NEWS

  • Dokter Syafira yang menangani korban sedang memberikan penjelasan kondisi korban kepada keluarga di ruang bedah RSUD Lewoleba, Senin, 14 Oktober 2024.

    Disiram Air Keras, Meysa Chatelin Witak Terbaring Lemah di Ruang Bedah RSUD Lewoleba

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koko Cimeng, Predator Penyuka Siswi SMP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Verry Klau, Sosok di Balik Lagu Viral “Veronika”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membawa Harmoni Nusantara ke Panggung Indonesian Idol: Keiko Regine, Talenta Muda Berdarah Maumere-Kedang dan Jawa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Politisi PKB, PDIP, dan PKS Dukung Paket Tunas, Kok Bisa Begitu, Ada Apa Ya????

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Alamat Redaksi : Lewoleba Timur, Nubatukan, Nusa Tenggara Timur

Follow us on social media:

  • Tentang Kami
  • Advertise
  • Careers
  • Contact

© 2024 - lembatanews.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Hukrim
  • Polkam
  • Travel
  • Ekbis
  • Humaniora
  • Sport
  • Nasional
  • Dunia
  • Life Style
  • Editorial

© 2024 - lembatanews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In