LEWOLEBA – Kamis, 4 April 2024 hari ini, teringat kembali kepanikan, kesedihan dan kegemparan warga Lembata atas Khabar dukacita terjadinya banjir bandang akibat badai Seroja yang melanda sejumlah wilayah di Ile Ape pada Minggu, 4 April 2021 yang lalu. Hari ini merupakan peringatan tiga tahun bencana badai Seroja yang melanda Ile Ape dan sejumlah wilayah di Kabupaten Lembata.
“Suasana tiga tahun lalu sebelum bencana terjadi seperti sekarang ini. Hujan berlangsung beberapa hari. Semoga tahun ini tidak terjadi seperti tiga tahun lalu,” kata Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Lembata Yohanes Gregorius Solang Demong kepada LembataNews.id, Rabu 3 April 2024 malam.
Ia mengatakan, tahun lalu saat peringatan dua tahun bencana Seroja, ada kegiatan peringatan yang digelar di Waimatan dan Lamawolo. Namun tahun ini, lanjutnya, belum ada pemberitahuan dari kedua wilayah terdampak.
Dikatakannya, bencana badai Seroja yang terjadi tiga tahun lalu, kondisi awalnya mirip dengan kondisi cuaca saat ini. Terjadi hujan berkepanjangan selama beberapa hari.
Dengan kondisi curah hujan seperti ini ditambah prakiraan curah hujan tinggi pada 7 hingga 10 April mendatang, ia berharap bencana serupa tak bakal terjadi.
Apalagi, dari Jontona dilaporkan adanya aroma bau belerang.
” Kami sudah turunkan tim ke lokasi untuk melakukan pemantauan,” kata Handris Koban, sapaan akrab Kalak BPBD Lembata ini.
Dia berharap, kalaupun terjadi hujan, intensitasnya jangan tinggi dan terlalu lama. Sebab, jika curah hujan tinggi dan lama, bisa berdampak pada terjadinya banjir dan longsor.
Untuk itu, pihaknya berupaya meningkatkan sistem peringatan dini dan berkoordinasi dengan para kepala desa di titik rawan bencana guna mengantisipasi risiko bencana.
“Supaya kalaupun terjadi, cukuplah korban harta benda. Jangan sampai ada jatuh korban jiwa,” tegasnya.
Ke depan, pihaknya akan memperkuat sistem peringatan dini bencana dengan menyediakan fasilitas WhatsApp Broadcast atau WA Robot. Dengan fasilitas ini, dapat diinput nomor WA semua warga dan stakeholder untuk dikirimkan peringatan dini saat terjadi bencana.
“Tapi baru dialokasikan anggarannya tahun ini (2024). Pengadaannya baru di triwulan II,” terangnya.
Untuk saat ini, pihaknya berharap para kepala desa bisa menjadi ujung tombak peringatan dini bencana untuk mengantisipasi timbulnya korban jiwa. (Tim LembataNews)








