Sabtu, Mei 16, 2026
  • Tentang Kami
  • Advertise
  • Careers
  • Contact
Lembata News
  • Home
  • Hukrim
  • Polkam
  • Travel
  • Ekbis
  • Humaniora
  • Sport
  • Nasional
  • Dunia
  • Life Style
  • Login
No Result
View All Result
Lembata News
No Result
View All Result
Home Dunia

Boikot Benua Afrika di Piala Dunia 1966, Sejarah Kelam Sepakbola Dunia

LembataNews by LembataNews
Maret 14, 2026
in Dunia, Sport
0
Boikot Benua Afrika di Piala Dunia 1966, Sejarah Kelam Sepakbola Dunia
0
SHARES
11
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

TAHUKAH kalian bahwa pada Piala Dunia 1966 di Inggris, ada satu benua utuh yang secara serentak menolak ikut campur, memboikot turnamen, dan menampar wajah FIFA di depan mata dunia?

Ini adalah kisah heroik tentang harga diri, perlawanan terhadap diskriminasi, dan bagaimana Benua Afrika mengubah sejarah Piala Dunia selamanya.

Related posts

Lady Death dari Rusia, Hantu yang Sangat Ditakuti

Lady Death dari Rusia, Hantu yang Sangat Ditakuti

Mei 10, 2026
Paus Leo XIV: “Saya Tidak Takut pada Pemerintahan Trump”

Paus Leo XIV: “Saya Tidak Takut pada Pemerintahan Trump”

April 17, 2026

Mari kita putar waktu ke awal 1960-an. Di era itu, sepak bola Afrika sedang bangkit dari masa penjajahan. Timnas Ghana, yang dijuluki Black Stars, adalah raja benua yang sangat menakutkan.

Mereka punya pemain bernama Osei Kofi, seorang penyihir bola yang bahkan diakui oleh legenda Inggris, Gordon Banks, punya skill setara dengan George Best!

Namun, dunia tidak pernah melihat kehebatan Kofi di Piala Dunia. Mengapa? Karena keangkuhan FIFA.

Pada Januari 1964, FIFA mengeluarkan aturan kualifikasi Piala Dunia 1966 yang sangat tidak adil dan menghina nalar.

Dari 16 tiket yang tersedia, FIFA memberikan 10 tiket untuk Eropa, 4 untuk Amerika Latin, dan 1 untuk Amerika Tengah/Karibia.

Lalu, bagaimana dengan Benua Afrika, Asia, dan Oseania? FIFA menyuruh TIGA BENUA BESAR ITU saling bunuh hanya untuk memperebutkan SATU TIKET SISA!

Direktur Olahraga Ghana sekaligus anggota eksekutif FIFA, Ohene Djan, sampai mengirim telegram bernada marah ke markas FIFA.

“Ini menyedihkan dan tidak masuk akal! Negara-negara Afrika harus terbang keliling dunia, menghabiskan biaya mahal, hanya untuk memperebutkan satu tiket bersama Asia dan Oseania? HENTIKAN!”

Tapi FIFA menutup telinga. Mereka gengsi untuk mencabut keputusan. Masalah menjadi semakin panas karena isu politik yang sangat sensitif. Apartheid di Afrika Selatan.

Saat itu, pemerintah kulit putih Afrika Selatan melakukan diskriminasi brutal terhadap warga kulit hitam. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) langsung mengusir Afrika Selatan dari keanggotaan.

Tapi gilanya, FIFA justru “melindungi” Afrika Selatan dengan memasukkan mereka ke zona kualifikasi Asia-Oseania agar tidak diboikot oleh negara Afrika lainnya!

Melihat ketidakadilan sistem tiket dan kemunafikan FIFA soal apartheid, kesabaran Afrika habis. Pada Oktober 1964, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) mengambil keputusan paling berani dalam sejarah olahraga.

Sebanyak 15 negara Afrika yang berhak ikut kualifikasi secara serentak MENARIK DIRI. Seluruh Benua Afrika resmi memboikot Piala Dunia 1966!

“Itu bukan keputusan sulit. Ini soal gengsi dan martabat. Sebagian besar negara kami baru saja merdeka dari penjajahan, kami harus membela harga diri Afrika,” kenang Fikrou Kidane, tokoh sepak bola Ethiopia.

Piala Dunia 1966 pun berjalan tanpa satu pun negara Afrika. Tiket sisa “Tiga Benua” itu akhirnya dimenangkan oleh Korea Utara (Asia).

Namun, ironi terbesar menampar FIFA tepat di wajah mereka selama turnamen berlangsung. Siapa Top Skor Piala Dunia 1966? Eusébio. Membela negara apa? Portugal. Lahir di mana? Mozambik, Benua Afrika!

Ya, pemain terbaik di Piala Dunia 1966 secara de facto adalah orang Afrika (yang saat itu Mozambik masih dijajah Portugal).

Fakta ini, ditambah boikot masif dari negara-negara Afrika yang merdeka, membuat FIFA sadar bahwa mereka tidak bisa lagi meremehkan benua hitam tersebut.

Dua tahun usai boikot epik itu, FIFA akhirnya menyerah. Mereka dengan suara bulat mengubah aturan dan akhirnya memberikan Satu Tiket Otomatis Khusus untuk Benua Afrika di Piala Dunia 1970.

Perjuangan Osei Kofi dan generasi emas Afrika tahun 1960-an mungkin harus mengorbankan mimpi mereka bermain di Piala Dunia.

Tapi berkat boikot heroik mereka, hari ini Afrika memiliki 5 tiket reguler di Piala Dunia, dan sepak bola menjadi olahraga global yang sesungguhnya. (*/Tim LembataNews)

Previous Post

Lembata Siap Jadi Tuan Rumah Operasi Katarak Gratis, 300 Warga 3T Ditargetkan Pulihkan Penglihatan

Next Post

Pemkab Lembata Bahas Revitalisasi Depot BBM Lewoleba Bersama PT Grayson Alfarezy Sapujagad

Next Post
Pemkab Lembata Bahas Revitalisasi Depot BBM Lewoleba Bersama PT Grayson Alfarezy Sapujagad

Pemkab Lembata Bahas Revitalisasi Depot BBM Lewoleba Bersama PT Grayson Alfarezy Sapujagad

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED NEWS

Bupati Lembata P Kanisius Tuaq menandatangani komitmen bersama antara Pemerintah Provinsi dan seluruh kepala daerah saat Raker Pemerintah Provinsi di Kupang, 21 November 2025.

Hadiri Raker Pemprov NTT, Bupati Lembata Kanis Tuaq Dorong Kolaborasi Nyata Sentuh Masyarakat

6 bulan ago
Peresmian 37 proyek strategis ketenagalistrikan di 18 Provinsi oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto (tengah) didampingi Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia (kedua dari kanan), Menteri BUMN, Erick Thohir (kedua dari kiri), Menteri PU, Dody Hanggodo (kiri), dan Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo (kanan) pada Senin (20/1) bertempat di PLTA Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (Foto: BPMI Setpres)

Presiden Prabowo Resmikan Proyek Strategis Ketenagalistrikan Terbesar di Dunia

1 tahun ago
Menyasar Kelompok Milenial, PKB Lembata Gelar Mukercab dan PKP Kader Loyalis

Menyasar Kelompok Milenial, PKB Lembata Gelar Mukercab dan PKP Kader Loyalis

5 bulan ago
Bupati Lembata Resmi Buka Lomba Semarak Idul Fitri 1447 H di Buyasuri, Perkuat Silaturahmi dan Nilai Keagamaan

Bupati Lembata Resmi Buka Lomba Semarak Idul Fitri 1447 H di Buyasuri, Perkuat Silaturahmi dan Nilai Keagamaan

2 bulan ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Dunia
  • Editorial
  • Ekbis
  • Headline
  • Hukrim
  • Humaniora
  • Life Style
  • Nasional
  • Polkam
  • Sport
  • Travel
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

#Business #Delivery #Investment #Planning #Services #Solution #Wise 2018 League Balinese Culture Bali United Budget Travel Champions League Chopper Bike Doctor Terawan Istana Negara Market Stories National Exam Visit Bali

POPULAR NEWS

  • Dokter Syafira yang menangani korban sedang memberikan penjelasan kondisi korban kepada keluarga di ruang bedah RSUD Lewoleba, Senin, 14 Oktober 2024.

    Disiram Air Keras, Meysa Chatelin Witak Terbaring Lemah di Ruang Bedah RSUD Lewoleba

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koko Cimeng, Predator Penyuka Siswi SMP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membawa Harmoni Nusantara ke Panggung Indonesian Idol: Keiko Regine, Talenta Muda Berdarah Maumere-Kedang dan Jawa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Verry Klau, Sosok di Balik Lagu Viral “Veronika”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Politisi PKB, PDIP, dan PKS Dukung Paket Tunas, Kok Bisa Begitu, Ada Apa Ya????

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Alamat Redaksi : Lewoleba Timur, Nubatukan, Nusa Tenggara Timur

Follow us on social media:

  • Tentang Kami
  • Advertise
  • Careers
  • Contact

© 2024 - lembatanews.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Hukrim
  • Polkam
  • Travel
  • Ekbis
  • Humaniora
  • Sport
  • Nasional
  • Dunia
  • Life Style
  • Editorial

© 2024 - lembatanews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In