Rabu, April 1, 2026
  • Tentang Kami
  • Advertise
  • Careers
  • Contact
Lembata News
  • Home
  • Hukrim
  • Polkam
  • Travel
  • Ekbis
  • Humaniora
  • Sport
  • Nasional
  • Dunia
  • Life Style
  • Login
No Result
View All Result
Lembata News
No Result
View All Result
Home Dunia

Boikot Benua Afrika di Piala Dunia 1966, Sejarah Kelam Sepakbola Dunia

LembataNews by LembataNews
Maret 14, 2026
in Dunia, Sport
0
Boikot Benua Afrika di Piala Dunia 1966, Sejarah Kelam Sepakbola Dunia
0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

TAHUKAH kalian bahwa pada Piala Dunia 1966 di Inggris, ada satu benua utuh yang secara serentak menolak ikut campur, memboikot turnamen, dan menampar wajah FIFA di depan mata dunia?

Ini adalah kisah heroik tentang harga diri, perlawanan terhadap diskriminasi, dan bagaimana Benua Afrika mengubah sejarah Piala Dunia selamanya.

Related posts

Lembata Siap Gelar Fishing Tournament Piala Bupati 2026

Lembata Siap Gelar Fishing Tournament Piala Bupati 2026

Maret 20, 2026
Diukir di Mulut Gua, Gereja di Yunani Dibangun tanpa Atap

Diukir di Mulut Gua, Gereja di Yunani Dibangun tanpa Atap

Maret 15, 2026

Mari kita putar waktu ke awal 1960-an. Di era itu, sepak bola Afrika sedang bangkit dari masa penjajahan. Timnas Ghana, yang dijuluki Black Stars, adalah raja benua yang sangat menakutkan.

Mereka punya pemain bernama Osei Kofi, seorang penyihir bola yang bahkan diakui oleh legenda Inggris, Gordon Banks, punya skill setara dengan George Best!

Namun, dunia tidak pernah melihat kehebatan Kofi di Piala Dunia. Mengapa? Karena keangkuhan FIFA.

Pada Januari 1964, FIFA mengeluarkan aturan kualifikasi Piala Dunia 1966 yang sangat tidak adil dan menghina nalar.

Dari 16 tiket yang tersedia, FIFA memberikan 10 tiket untuk Eropa, 4 untuk Amerika Latin, dan 1 untuk Amerika Tengah/Karibia.

Lalu, bagaimana dengan Benua Afrika, Asia, dan Oseania? FIFA menyuruh TIGA BENUA BESAR ITU saling bunuh hanya untuk memperebutkan SATU TIKET SISA!

Direktur Olahraga Ghana sekaligus anggota eksekutif FIFA, Ohene Djan, sampai mengirim telegram bernada marah ke markas FIFA.

“Ini menyedihkan dan tidak masuk akal! Negara-negara Afrika harus terbang keliling dunia, menghabiskan biaya mahal, hanya untuk memperebutkan satu tiket bersama Asia dan Oseania? HENTIKAN!”

Tapi FIFA menutup telinga. Mereka gengsi untuk mencabut keputusan. Masalah menjadi semakin panas karena isu politik yang sangat sensitif. Apartheid di Afrika Selatan.

Saat itu, pemerintah kulit putih Afrika Selatan melakukan diskriminasi brutal terhadap warga kulit hitam. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) langsung mengusir Afrika Selatan dari keanggotaan.

Tapi gilanya, FIFA justru “melindungi” Afrika Selatan dengan memasukkan mereka ke zona kualifikasi Asia-Oseania agar tidak diboikot oleh negara Afrika lainnya!

Melihat ketidakadilan sistem tiket dan kemunafikan FIFA soal apartheid, kesabaran Afrika habis. Pada Oktober 1964, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) mengambil keputusan paling berani dalam sejarah olahraga.

Sebanyak 15 negara Afrika yang berhak ikut kualifikasi secara serentak MENARIK DIRI. Seluruh Benua Afrika resmi memboikot Piala Dunia 1966!

“Itu bukan keputusan sulit. Ini soal gengsi dan martabat. Sebagian besar negara kami baru saja merdeka dari penjajahan, kami harus membela harga diri Afrika,” kenang Fikrou Kidane, tokoh sepak bola Ethiopia.

Piala Dunia 1966 pun berjalan tanpa satu pun negara Afrika. Tiket sisa “Tiga Benua” itu akhirnya dimenangkan oleh Korea Utara (Asia).

Namun, ironi terbesar menampar FIFA tepat di wajah mereka selama turnamen berlangsung. Siapa Top Skor Piala Dunia 1966? Eusébio. Membela negara apa? Portugal. Lahir di mana? Mozambik, Benua Afrika!

Ya, pemain terbaik di Piala Dunia 1966 secara de facto adalah orang Afrika (yang saat itu Mozambik masih dijajah Portugal).

Fakta ini, ditambah boikot masif dari negara-negara Afrika yang merdeka, membuat FIFA sadar bahwa mereka tidak bisa lagi meremehkan benua hitam tersebut.

Dua tahun usai boikot epik itu, FIFA akhirnya menyerah. Mereka dengan suara bulat mengubah aturan dan akhirnya memberikan Satu Tiket Otomatis Khusus untuk Benua Afrika di Piala Dunia 1970.

Perjuangan Osei Kofi dan generasi emas Afrika tahun 1960-an mungkin harus mengorbankan mimpi mereka bermain di Piala Dunia.

Tapi berkat boikot heroik mereka, hari ini Afrika memiliki 5 tiket reguler di Piala Dunia, dan sepak bola menjadi olahraga global yang sesungguhnya. (*/Tim LembataNews)

Previous Post

Lembata Siap Jadi Tuan Rumah Operasi Katarak Gratis, 300 Warga 3T Ditargetkan Pulihkan Penglihatan

Next Post

Pemkab Lembata Bahas Revitalisasi Depot BBM Lewoleba Bersama PT Grayson Alfarezy Sapujagad

Next Post
Pemkab Lembata Bahas Revitalisasi Depot BBM Lewoleba Bersama PT Grayson Alfarezy Sapujagad

Pemkab Lembata Bahas Revitalisasi Depot BBM Lewoleba Bersama PT Grayson Alfarezy Sapujagad

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED NEWS

Tempat penjualan ikan di Pasar Lamahora tampak sepi. Hanya enam penjual ikan yang berjualan di pasar pada Jumat, 9 Mei 2025. Biasanya, terdapat 20-an penjual ikan, namun karena sepi pembeli, mereka berjualan di pinggir jalan.

Sepi Pembeli, Penjual Ikan Pasar Lamahora Minta Pemerintah Tertibkan Penjualan Ikan Pinggir Jalan

11 bulan ago
Penjabat Gubernur NTT Ayodhya Kalake melantik Penjabat Bupati Lembata Paskalis Ola Tapobali dan Penjabat Bupati Flotim Nurhayati Rasyid di aula El Tari Kupang, Selasa (28/5/2024). (foto portalntt.com)

Paskalis Tapobali Dilantik Gantikan Matheos Tan, Ayodhya Kalake Titipkan Tujuh Agenda Penting

2 tahun ago
Para difabel yang tergabung dalam FPPDK Kabupaten Lembata membersihkan sampah saat memperingati Hari Difabel Internasional tingkat Lembata, Selasa, 3 Desember 2024.

Pungut Sampah dan Belajar Bisindo, Warnai HDI di Lembata

1 tahun ago
Charles Arif alias Koko Cimeng saat ditahan dan memberikan keterangan di hadapan Kapolres Lembata AKBP I Gede Eka Putra Astawa dan Kajari Lembata Yupiter Selan di Mapolres Lembata, Senin, 14 Oktober 2024 malam.

Gerak Cepat Polres Lembata, Tak Sampai Sehari Sukses Bekuk Pelaku Penyiraman Air Keras

1 tahun ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Dunia
  • Editorial
  • Ekbis
  • Headline
  • Hukrim
  • Humaniora
  • Life Style
  • Nasional
  • Polkam
  • Sport
  • Travel
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

#Business #Delivery #Investment #Planning #Services #Solution #Wise 2018 League Balinese Culture Bali United Budget Travel Champions League Chopper Bike Doctor Terawan Istana Negara Market Stories National Exam Visit Bali

POPULAR NEWS

  • Dokter Syafira yang menangani korban sedang memberikan penjelasan kondisi korban kepada keluarga di ruang bedah RSUD Lewoleba, Senin, 14 Oktober 2024.

    Disiram Air Keras, Meysa Chatelin Witak Terbaring Lemah di Ruang Bedah RSUD Lewoleba

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Koko Cimeng, Predator Penyuka Siswi SMP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membawa Harmoni Nusantara ke Panggung Indonesian Idol: Keiko Regine, Talenta Muda Berdarah Maumere-Kedang dan Jawa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Politisi PKB, PDIP, dan PKS Dukung Paket Tunas, Kok Bisa Begitu, Ada Apa Ya????

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Forum Puspa Kecam Perlakuan Tak Manusiawi pada Anak di Bawah Umur di Desa Normal 1

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Alamat Redaksi : Lewoleba Timur, Nubatukan, Nusa Tenggara Timur

Follow us on social media:

  • Tentang Kami
  • Advertise
  • Careers
  • Contact

© 2024 - lembatanews.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Hukrim
  • Polkam
  • Travel
  • Ekbis
  • Humaniora
  • Sport
  • Nasional
  • Dunia
  • Life Style
  • Editorial

© 2024 - lembatanews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In