SOMBOON adalah seekor gajah Asia betina yang hidup lebih dari delapan dekade dalam penderitaan sebelum akhirnya diselamatkan. Namanya dikenal luas setelah kisah hidupnya mengungkap sisi gelap eksploitasi gajah di industri kerja dan pariwisata Thailand. Hidup Somboon menjadi bukti nyata bagaimana seekor satwa cerdas dapat kehilangan masa kanak‑kanak, kebebasan, dan martabatnya akibat campur tangan manusia.
Sejak masih bayi, Somboon diambil dari alam liar dan dipisahkan dari induknya. Ia dipaksa bekerja sebagai gajah pekerja di sektor penebangan kayu, sebuah praktik lazim di Thailand pada masa lalu. Setelah industri logging dilarang, Somboon dialihkan ke industri pariwisata dan digunakan untuk mengangkut wisatawan. Selama puluhan tahun, ia bekerja tanpa henti hingga 10–12 jam per hari, sering berdiri terus tanpa bisa berbaring karena rantai pendek yang membatasi geraknya.
Memasuki usia lanjut, kondisi fisik Somboon memburuk. Saat ditemukan oleh relawan penyelamat, usianya diperkirakan telah mencapai sekitar 85–87 tahun. Tubuhnya kurus, berat badannya jauh di bawah normal, dan ia telah kehilangan seluruh giginya sehingga tidak mampu mengunyah makanan keras. Penglihatannya juga sangat terbatas, diperkirakan hanya tersisa sekitar 30 persen. Selama bertahun-tahun, kakinya sering dirantai pendek, membuatnya tidak bisa berbaring dengan nyaman dan beristirahat secara alami.
Nasib Somboon berubah pada Januari 2025, ketika organisasi Save Elephant Foundation turun tangan. Setelah mengetahui kondisi gajah tua tersebut, organisasi ini melakukan proses penyelamatan dan memindahkannya ke Elephant Nature Park, sebuah sanctuary yang aman. Perjalanan menuju tempat perlindungan memakan waktu lebih dari 30 jam dan dilakukan dengan sangat hati-hati mengingat usia dan kondisi Somboon yang rentan.
Momen paling menyentuh terjadi saat Somboon tiba di sanctuary. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, ia berbaring di atas pasir dan tertidur dengan tenang. Perilaku ini menjadi simbol kebebasan yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Di tempat perlindungan tersebut, Somboon mendapatkan perawatan medis, makanan lunak yang sesuai dengan kondisinya, serta lingkungan yang memungkinkan ia bergerak tanpa rantai dan paksaan.
Kisah Somboon menjadi pengingat keras tentang dampak eksploitasi terhadap satwa liar, terutama gajah yang memiliki kecerdasan tinggi dan ikatan sosial yang kuat. Ia juga membuka mata banyak orang tentang pentingnya sanctuary yang beretika, bukan tempat wisata yang menjadikan gajah sebagai alat hiburan.
Di usia senjanya, Somboon mungkin tidak dapat menghapus luka masa lalu. Namun, hari-hari terakhirnya dihabiskan dengan lebih damai, aman, dan bermartabat. Kehidupan Somboon meninggalkan pesan kuat bahwa perubahan, sekecil apa pun, tetap berarti, bahkan bagi seekor gajah yang telah terlalu lama menderita.








