LEWOLEBA – BUPATI Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, selama dua hari Jumat-Sabtu, 5–6 Desember 2025, melakukan kunjungan lapangan untuk meninjau secara langsung potensi pengembangan lahan jagung industri di sejumlah wilayah yang menjadi bagian dari Program Unggulan Klaster Botani.
Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan daerah dalam mewujudkan kemandirian pangan dan pakan ternak, sejalan dengan visi besar Nelayan, Tani, dan Ternak.
Bupati turun langsung menyusuri hamparan lahan di Bean, Wei Pae, Angar Laleng Mahál, serta lokasi mata air Wei Lariq Mahál 2. Ia juga meninjau hamparan Natu Mahál 1, Wowong, hingga Nila Napoq–Atanila, wilayah yang selama ini dikenal luas memiliki tanah subur, tetapi belum dioptimalkan sebagai kekuatan ekonomi daerah.
Dalam kunjungan tersebut, Bupati melihat langsung betapa besar potensi Lembata jika dikelola dengan serius dan terencana. Hamparan lahan yang luas, ditambah ketersediaan titik-titik air seperti di Wei Lariq Mahál 2, menjadi modal strategis untuk mengembangkan jagung industri yang akan menopang sektor peternakan, khususnya ayam pedaging, sapi, dan babi.
“Hari ini saya berdiri di tengah-tengah hamparan tanah Lembata yang luar biasa. Saya melihat harapan. Lembata juga bisa! Kita bisa menghasilkan jagung industri sendiri, kita bisa mandiri pangan, kita bisa mengurangi ketergantungan dari luar. Semua ada di depan mata, tinggal kita kerjakan dengan sungguh-sungguh,” tegas Bupati dengan penuh semangat.
Bupati menegaskan bahwa Program Klaster Botani bukan lagi konsep di atas kertas. Pemerintah Daerah berkomitmen membangun jaringan sumur bor, embung mikro, serta mekanisasi pascapanen agar lahan-lahan tersebut benar-benar produktif dan memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
“Saya ingin anak-anak muda Lembata melihat bahwa tanah ini menyimpan masa depan mereka. Kita tidak kurang apa-apa. Kita hanya butuh keberanian memulai, kerja bersama, dan keyakinan bahwa Lembata mampu berdiri sejajar dengan daerah lain,” lanjut Bupati.
Selama dua hari kunjungan, Bupati juga berdialog dengan kelompok tani, tokoh masyarakat, dan para camat untuk memastikan kesiapan pelaksanaan klaster serta mengidentifikasi kebutuhan mendesak di setiap lokasi.
Pemerintah Daerah menegaskan bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun implementasi besar-besaran—mulai dari pembukaan lahan, pembangunan sarana air, hingga memastikan ketersediaan benih dan peralatan pascapanen. Klaster Botani akan menjadi fondasi bagi kemandirian jagung industri, yang selanjutnya memperkuat program kemandirian ayam pedaging dan diversifikasi pangan daerah.
“Lembata tidak kekurangan potensi. Yang kita butuh hanyalah keyakinan dan kerja bersama. Dengan Klaster Botani, kita buktikan bahwa Lembata juga bisa,” tegasnya.
Di sela-sela rangkaian peninjauan Klaster Botani, Bupati Lembata juga menyempatkan diri untuk melakukan panen tomat bersama Kelompok Tani “Kayaq Tene”. Panen ini menjadi bukti bahwa kerja keras petani Lembata mulai menunjukkan hasil nyata, sekaligus menegaskan bahwa sektor hortikultura juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan berdampingan dengan jagung industri.

Bupati memberikan apresiasi kepada para petani yang tetap semangat dan konsisten dalam memanfaatkan lahan mereka, meski dengan segala keterbatasan. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan panen tomat ini adalah tanda bahwa Lembata mampu menghasilkan produk pertanian berkualitas, dan menjadi dorongan moral bagi percepatan Program Klaster Botani.
“Panen tomat hari ini membuktikan bahwa tanah Lembata subur dan masyarakat kita punya kemampuan. Jagung industri kita kembangkan, hortikultura tetap jalan. Yang penting kita percaya bahwa Lembata juga bisa,” ujar Bupati saat memotong buah tomat pertama.
Dalam kunjungan kerja Bupati Lembata selama dua hari itu, menghasilkan pemetaan rinci potensi lahan produktif yang siap dikembangkan sebagai bagian dari Klaster Botani untuk mendukung kemandirian jagung industri dan peningkatan kapasitas pangan daerah tahun 2026. Adapun hasil verifikasi lapangan adalah sebagai berikut:
1. Desa Bean
a).Perbenihan jagung di lahan masyarakat pola IP 2x sistim 1:1 ( 1 kali jagung perbenihan dan 1 kali jagung masyarakat dg luasan ± 6 ha yakni 5 ha perbenihan jagung dan 1 ha kacang hijau
b)Pengembangan jagung industri: 10–15 ha
Pola tanam: IP 3x, sistem 2:1 (Dua kali jagung industri, satu kali jagung masyarakat)
2. Hamparan Wei Paeq – Desa Panama
Luasan: 10 ha
Pola tanam IP 3x sesuai ketersediaan air dan posisi lahan ( jagung industri 3 kali),
3. Hamparan Angar Laleng – Desa Mahál 2
Luasan: 10 ha
Pola IP 3x, sistem 2:1
( jagung industri 2x dan jagung masyarakat satu kali).
4. Hamparan Natu – Desa Mahál 1
Luasan: 5 ha
Pola IP 2x, sistem 1:1
( jagung industri 1 kali dan jagung masyarakat 1 kali ).
5. Hamparan Wowong – Hule – Liang Kolong
Luasan: 20 ha
Memanfaatkan Irigasi Wowong
Pola IP 3x, sistem 2:1
(Jagung industri 2x dan jagung masyarakat 1 kali).
6. Hamparan Nila Napoq – Atanila
Luasan sementara: 10 ha
Pola IP 2x, sistem 1:1
(Menyesuaikan dinamika sumber air dan kondisi topografi).
7. Total keseluruhan lahan yang siap dikembangkan:
± 70–75 hektare
(Tersebar di enam wilayah potensial).
Pola kerja yang dibangun untuk pengembangan klaster ini adalah kolaborasi penuh antara Pemerintah Desa dan Pemerintah Kabupaten, sehingga setiap tahapan—dari pembukaan lahan, penyiapan air, hingga pendampingan teknis—dapat berjalan efektif, terukur, dan berkelanjutan demi keberhasilan Klaster Botani. (Advetorial/Tim LembataNews)








