LEWOLEBA – MENYUSURI wilayah Kedang yang meliputi dua kecamatan, yakni Omesuri dan Buyasuri, akan tampak berdiri kokoh bak penampung air hujan (PAH) di hampir semua rumah warga. Wilayah ini memang mengalami krisis air hampir di setiap musim.
Dulu, untuk bisa mendapatkan air, warga harus berjalan cukup jauh ke mata air untuk mengambil air. Kini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata sejak jaman kepemimpinan Bupati Eliyaser Yentji Subur (almarhum), telah berupaya membangun infrastruktur air bersih memanfaatkan sumber air Weilain. Sayangnya, belum semua desa di wilayah Kedang menikmati layanan air bersih.
Salah satu desa yang hanya dilewati jaringan perpipaan namun belum dapat menikmati air dari Weilain adalah Desa Leuwayan, Kecamatan Omesuri.
Kehadiran Plan Indonesia di sejumlah desa dampingan di Lembata, telah sangat membantu masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan air bersih. Plan Indonesia hadir berupaya menghapus wajah muram warga atas kesulitan air bersih menjadi senyum ceria. Plan Indonesia hadir berupaya membantu pemerintah mendekatkan layanan air bersih kepada masyarakat.
Perlahan namun pasti, kesulitan masyarakat akan air bersih mulai teratasi.
Di Desa Leuwayan, misalnya, sejumlah fasilitas telah dihadirkan Plan Indonesia untuk mendukung Pemerintah Desa (Pemdes) Leuwayan memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih memanfaatkan sumber air Weirawe.
Pantauan lembatanews.id di Desa Leuwayan pada Rabu, 12 November 2025, tampak sejumlah tugu kran telah dibangun untuk mendekatkan layanan air bersih kepada warga. Satu tugu kran dimanfaatkan 4-5 kepala keluarga (KK).
Kehadiran Plan Indonesia telah sangat membantu warga yang sebelumnya sangat mendambakan layanan air yang memadai. Mereka tak lagi kesulitan air bersih.
Sophia Tuto, warga Dusun Dahuq Ramuq, Desa Leuwayan memancarkan senyum sumringah ketika ditemui para wartawan. Dengan semangat, ia berkisah sulitnya air bersih tempo dulu, yang kini sudah mulai teratasi berkat intervensi Plan Indonesia.
Ia mengakui, sebelum Plan Indonesia masuk dan mengintervensi di Leuwayan, memang sudah ada layanan air. Hanya saja, pelayanannya dilakukan sekali dalam seminggu pada musim kemarau. Kalau musim hujan baru bisa setiap hari atau terkadang dua hari sekali keluar. Akan tetapi, jika ada kerusakan pipa, maka bisa sampai seminggu baru airnya keluar.
Dikatakannya, sebelum Plan Indonesia masuk, pemerintah desa sudah pula membangun tugu kran. Hanya saja masih kurang. Sehingga, satu tugu kran digunakan 9-10 KK. Berkat intervensi Plan, saat ini satu tugu kran bisa dimanfaatkan 4-5 KK per tugu kran.
“Air sekarang juga sudah bisa pakai untuk cuci, kalau dulu hanya bisa untuk masak dan minum. Kami sekarang sudah tidak pigi (pergi) mandi di pante (pantai) lagi, mungkin hanya anak-anak saja. Dulu, kalau pas air leding keluar dan dapat banyak tidak pigi (ambil air di sumur), tapi kalau tidak dapat banyak baru kami turun ambil air di sumur. Sekarang sudah tidak lagi,” kata Sophia Tuto sambil tersenyum.

Kepala Desa (Kades) Leuwayan Emanuel Ledo menjelaskan, sebelum Plan Indonesia mengintervensi perbaikan jaringan air di Desa Leuwayan, sudah ada sejumlah reservoar dan bak penampung yang dibangun untuk memanfaatkan air Weirawe. Sayangnya, karena ada kerusakan dan jaringan yang tidak sesuai, pendistribusian air menjadi terhambat.
Sumber air Weirawe pada musim hujan debitnya bisa mencapai 1,8 liter per detik. Pada musim kemarau, debitnya turun menjadi 1,3-1,4 liter per detik.
Ketika ia dilantik menjadi kades, ia kemudian membangun diskusi dengan Plan Indonesia untuk membantu pendanaan perbaikan dan penggantian jaringan air.
Setelah dilakukan survei, akhirnya Plan mendukung pembiayaan perbaikan dan pergantian jaringan.

“Setelah dilantik jadi kades tahun 2020 dilanda covid. Saat itu semua tidur dan alami kesulitan dana bangun desa. Setelah saya ke Plan dan bicarakan untuk bantu perbaiki jaringan air, ada enam desa yang bersaing dan setelah survei, kadar kapurnya hanya 0,001 sekian dan sangat kecil, debit air dan daya tampung memungkinkan hanya pipa outlet untuk distribusi yang kalah. Sehingga setelah presentasikan di Plan akhirnya disetujui dan mulai diintervensi,” terang Emanuel Ledo.
Berkat dukungan Plan Indonesia, untuk intervensi fisik telah dilakukan perbaikan jaringan perpipaan sepanjang 1.650 meter dan dibangun 36 tugu kran. Sementara jaringan perpipaan baru yang dibangun sepanjang 1.650 meter, telah dibangun 25 tugu kran. Sehingga saat ini sudah ada sebanyak 61 tugu kran yang dibangun.
Dengan adanya tugu kran yang dibangun dan distribusi air berjalan baik, setidaknya 370 KK dengan 1.600 jiwa di Desa Leuwayan sudah tidak lagi kesulitan air bersih.
Padahal sebelum intervensi Plan Indonesia, dengan jaringan yang ada sebelumnya tidak sampai 50 persen warga menikmati air, terutama warga yang ada di dekat pantai. Mereka hanya memanfaatkan sumur yang ada di tepi pantai.
Selain mengintervensi perbaikan dan pemasangan jaringan baru, Plan Indonesia juga mengintervensi sumber daya pengelola air yang sebelumnya sudah dibentuk.
Plan lalu membentuk BPSPAM dan peningkatan japasitas Pengelolaan Jaringan Air Bersih yang berkelanjutan di Desa Leuwayan. Selanjutnya, pengelolaan air diatur oleh BPSPAM yang bertugas menarik iuran dari warga sebesar Rp5.000 per KK dan melakukan perbaikan jaringan jika ada kerusakan.
Dengan demikian, saat ini sudah ada pendapatan desa dari pengelolaan air Weirawe. Uang itu selain untuk operasional BPSPAM dan perbaikan jaringan, juga menjadi pemasukan bagi desa untuk pembiayaan pembangunan lainnya.
Ditanya rencana pemasangan sambungan rumah, (SR), Emanuel Ledo mengatakan, ia tak mau memasang SR, karena jika dipasang, distribusi air menjadi tidak merata. Bagi yang memiliki uang, akan lebih banyak memanfaatkan air.
Karenanya, targetnya ke depan adalah menurunkan jumlah pemanfaatan tugu kran. Jika saat ini setiap tugu dimanfaatkan 5 KK, maka ia akan berupaya sampai hanya 3 KK setiap tugu kran.
Diakuinya pula bahwa dengan air yang ada, belum bisa dimanfaatkan untuk usaha tanaman pekarangan. Air yang ada masih difokuskan untuk pemenuhan kebutuhan masak, minum, mandi dan cuci.

Manager Program Implementation Area Lembata Plan Indonesia Erlina Dangu menjelaskan, Plan Indonesia melihat air bersih sebagai hak dasar manusia, dan di Lembata, hak dasar anak. Beberapa intervensi yang dilakukan terkait air bersih pertama membangun infrastruktur air bersih baik sumur gali, sumur bor, bak penampung air hujan, instalasi air, sistem gravitasi maupun
Perbaiki sistem pengelolaan air di desa dalam hal ini badan pengelola air di desa agar tahu perbaiki jika ada kerusakan dan perbaikan ringan.
Teknis pengelolaan juga dikapasitasi, sehingga ada lembaga yang mengelolanya secara baik lewat BPSPAM. Sehingga, BPSPAM menjadi unit usaha BUMDes dan ada iuran yang menjadi sumber pendapatan desa.
“Secara lebih luas, air bersih tidak saja menjawab kebutuhan tapi dalam konteks perlindungan anak, dan ada hubungan dengan stunting, dan yang sensitif dan spesifik lebih kepada pemenuhan kebutuhan air. Air bersih dalam hubungan dengan anak danperlindungan anak dalam hal ini kekerasan. Jika sumber air jauh, anak berpotensi mengalami kekerasan. Misalnya di Leuwayan dengan jarak jauh sumber air. Kedua terkait waktu anak bermain dan belajar jadi kurang karena lebih fokus cari dan ambil air. Jarak tempuh di atas 30 menit pergi pulang maka masuk kategori sebagai paling rentan,” tegas Erlina Dangu.
Ia berharap, dengan intervensi air bisa mengurangi risiko kekerasan. Selain itu, juga mengurangi waktu anak bekerja agar mereka bisa memiliki lebih banyak waktu untuk belajar dan bermain. (Tim LembataNews)








