Oleh Mateus Mas Belalawe
BUPATI Petrus Kanisius Tuaq – Wakil Bupati (Wabup) Muhamad Nasir membawa Visi “Lembata Maju, Lestari, dan Berdaya Saing” yang dioperasionalkan lewat 6 misi dan 8 tema pembangunan dengan 20 program unggulan, dengan tagline Nelayan-Tani-Ternak (NTT).
Dalam dokumen RPJMD 2025-2029 yang saya bedah, tidak ada istilah resmi “9 cluster”, tapi narasi pembangunan bisa dikelompokkan menjadi 9 cluster prioritas agar bisa diukur CSF-nya. Ini analisis kritisnya:
- Cluster Ketahanan Pangan & Pertanian Terintegrasi. Isinya: Food Estate lahan kering terintegrasi Botani (Bobu-Tanjung Leur-Tobotani) dengan pola desa transit, ekspansi lahan, cetak sawah Waikomo, sertifikasi lahan.
CSF:• Kepastian air: 60% wilayah kemiringan 0-15 derajat ideal untuk pertanian tapi curah hujan hanya 4 bulan basah. Tanpa bendungan kecil + embung, Food Estate akan gagal. • IKP Lembata masih fluktuatif 66-70 – artinya ketersediaan tinggi tapi ketergantungan pasokan luar besar.
Titik Kritis: Jangan ulangi kesalahan masa lalu tanam saja tanpa hilir. CSF utamanya bukan luas tanam, tapi produktivitas dan indeks pertanaman 200 ke 300.2. Cluster Peternakan – Bukit Cinta, Bukit Hog, Bukit RuminansiaIsinya: Bukit Cinta kapasitas 10.000 ekor ruminansia kecil, Bour 20.000 ekor besar, Wangatoa 60 ekor babi, target ekspor Timor Leste 1.000-2.000 ekor 2026.
CSF:• Pakan: Lembata belum punya pabrik pakan mandiri. Tanpa industri pakan ternak, biaya pakan akan bunuh peternak kecil. • Tata niaga: Pemerintah harus jadi fasilitator, bukan pembeli. Pengalaman Bukit Hog harus ada tim lalu lintas ternak dan karantina yang kuat.
Titik Kritis: Risiko menjadi proyek kandang. CSF = jaminan harga dan akses pasar, bukan jumlah kandang dibangun.3. Cluster Perikanan & Ekonomi BiruIsinya: Kampung Nelayan Merah Putih, SPBN untuk BBM subsidi nelayan, pabrik es dan tepung ikan.
CSF:• Solar bersubsidi dan cold chain. Selama ini pelabuhan ferry rusak saja ganggu distribusi. • Garis pantai 492 km dengan potensi pelagis besar tapi belum ada kawasan industri perikanan 11 hektar di Nubatukan yang optimal.
Titik Kritis: Jika SPBN hanya jadi proyek fisik tanpa kuota BBM yang jelas dari Pertamina, nelayan tetap melaut dengan biaya tinggi.4. Cluster Hilirisasi & UMKM – Koperasi Merah PutihIsinya: Industri garam, air mineral, beras porang, pakan ternak, pusat oleh-oleh, Koperasi Desa Merah Putih.
CSF:• PAD Lembata turun rata-rata -8,89% per tahun 2020-2024, retribusi turun -6,53%. Artinya UMKM belum jadi mesin PAD. • Kolaborasi dengan Bank NTT sudah diinisiasi – ini kunci permodalan.
Titik Kritis: CSF bukan jumlah Koperasi Merah Putih dibentuk, tapi berapa yang punya business plan dan akses pasar digital.5. Cluster Infrastruktur Handal dan MerataIsinya: Jalan usaha tani, irigasi, air minum, listrik. Baru 2,13% irigasi terlayani dan perlindungan banjir sangat rendah.
CSF:• Topografi Lembata kompleks: Atadei 603 mdpl tertinggi, Omesuri 11 mdpl terendah, plus >40 derajat rawan longsor. Infrastruktur harus berbasis mitigasi, bukan asal bangun. • 3 dusun dan 1 desa belum listrik hingga 2024.
Titik Kritis: Jalan rabat Labala – Lebaata 6 km yang jadi quick win 100 hari harus jadi contoh konektivitas pesisir selatan, bukan proyek mercusuar Lewoleba saja.
6. Cluster SDM – Pendidikan, Kesehatan, Perlindungan Sosial AdaptifIsinya: Misi II meningkatkan kualitas SDM, penanganan stunting, HIV/AIDS, KDRT.
CSF:• PAUD >100% tapi akses SMP terpencil masih rendah. IKK kesehatan primer 100% tapi TBC/HIV masih <100%. • Stunting dan kemiskinan 24,22% tidak bisa selesai dengan bantuan sembako, butuh perlindungan sosial adaptif.
Titik Kritis: Guru dan nakes tidak merata. Digitalisasi sekolah dan puskesmas adalah CSF, bukan hanya gedung.7. Cluster Tata Kelola & Kemandirian FiskalIsinya: Misi VI Good and Clean Governance, transparansi dana desa dengan APIP dan Forkopimda, PAD, e-katalog.
CSF:• Transfer pusat masih 95% pendapatan. Kemandirian fiskal rendah. • Opini WTP dan deviasi belanja masih tinggi.Titik Kritis: Bupati sudah warning ASN harus loyal dan tidak bohong. CSF sesungguhnya adalah reformasi birokrasi dan digitalisasi pengadaan, bukan seremonial.
8. Cluster Lingkungan Lestari & Ketahanan Bencana-IklimIsinya: Misi V Berwawasan Lingkungan, geotermal Atadei, indeks kualitas lingkungan hidup target 73,94-74,19, risiko bencana tinggi.
CSF:• Potensi panas bumi Watuwawer Atadei belum dieksploitasi optimal, padahal jadi jawaban ketahanan energi. • DAS terbesar Waikomo-Waipukang 14.884 ha tapi degradasi hulu terjadi.
Titik Kritis: Konflik geotermal vs masyarakat adat harus diselesaikan dengan FPIC, bukan pendekatan keamanan.9. Cluster Pariwisata & Ekonomi Kreatif Berbasis BudayaIsinya: Tema Lembata Unik, tenun ikat, festival, desa wisata.
CSF:• Kontribusi PDRB akomodasi makan minum hanya 0,22%. Sangat kecil. • Konektivitas pelabuhan dan bandara adalah kunci. Tanpa itu, Unik tidak laku.Titik Kritis: Jangan jual “keunikan” tanpa infrastruktur pendukung dan kalender event yang konsisten.
Kesimpulan Opini:9 cluster ini akan berhasil jika 3 CSF lintas cluster dipenuhi:
- Air-Energi-Pangan – bukan program sektoral terpisah. 2. Kepastian Pasar sebelum Produksi – kontrak dengan offtaker, BUMDes, dan Timor Leste harus tanda tangan dulu baru tanam/pelihara. 3. Data dan Pengawasan – RPJMD sudah bagus secara teknokratik, tapi eksekusi RKPD sering deviasi. Tanpa dashboard publik, 9 cluster hanya jadi dokumen. Kalau Bupati fokus di 3 ini, tagline Nelayan-Tani-Ternak tidak hanya jadi jargon, tapi jadi ekonomi riil yang menaikkan PDRB per kapita dari Rp15,73 juta ke Rp23,89 juta target 2029. *








