TAHUKAH kalian bahwa pada Piala Dunia 1966 di Inggris, ada satu benua utuh yang secara serentak menolak ikut campur, memboikot turnamen, dan menampar wajah FIFA di depan mata dunia?
Ini adalah kisah heroik tentang harga diri, perlawanan terhadap diskriminasi, dan bagaimana Benua Afrika mengubah sejarah Piala Dunia selamanya.
Mari kita putar waktu ke awal 1960-an. Di era itu, sepak bola Afrika sedang bangkit dari masa penjajahan. Timnas Ghana, yang dijuluki Black Stars, adalah raja benua yang sangat menakutkan.
Mereka punya pemain bernama Osei Kofi, seorang penyihir bola yang bahkan diakui oleh legenda Inggris, Gordon Banks, punya skill setara dengan George Best!
Namun, dunia tidak pernah melihat kehebatan Kofi di Piala Dunia. Mengapa? Karena keangkuhan FIFA.
Pada Januari 1964, FIFA mengeluarkan aturan kualifikasi Piala Dunia 1966 yang sangat tidak adil dan menghina nalar.
Dari 16 tiket yang tersedia, FIFA memberikan 10 tiket untuk Eropa, 4 untuk Amerika Latin, dan 1 untuk Amerika Tengah/Karibia.
Lalu, bagaimana dengan Benua Afrika, Asia, dan Oseania? FIFA menyuruh TIGA BENUA BESAR ITU saling bunuh hanya untuk memperebutkan SATU TIKET SISA!
Direktur Olahraga Ghana sekaligus anggota eksekutif FIFA, Ohene Djan, sampai mengirim telegram bernada marah ke markas FIFA.
“Ini menyedihkan dan tidak masuk akal! Negara-negara Afrika harus terbang keliling dunia, menghabiskan biaya mahal, hanya untuk memperebutkan satu tiket bersama Asia dan Oseania? HENTIKAN!”
Tapi FIFA menutup telinga. Mereka gengsi untuk mencabut keputusan. Masalah menjadi semakin panas karena isu politik yang sangat sensitif. Apartheid di Afrika Selatan.
Saat itu, pemerintah kulit putih Afrika Selatan melakukan diskriminasi brutal terhadap warga kulit hitam. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) langsung mengusir Afrika Selatan dari keanggotaan.
Tapi gilanya, FIFA justru “melindungi” Afrika Selatan dengan memasukkan mereka ke zona kualifikasi Asia-Oseania agar tidak diboikot oleh negara Afrika lainnya!
Melihat ketidakadilan sistem tiket dan kemunafikan FIFA soal apartheid, kesabaran Afrika habis. Pada Oktober 1964, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) mengambil keputusan paling berani dalam sejarah olahraga.
Sebanyak 15 negara Afrika yang berhak ikut kualifikasi secara serentak MENARIK DIRI. Seluruh Benua Afrika resmi memboikot Piala Dunia 1966!
“Itu bukan keputusan sulit. Ini soal gengsi dan martabat. Sebagian besar negara kami baru saja merdeka dari penjajahan, kami harus membela harga diri Afrika,” kenang Fikrou Kidane, tokoh sepak bola Ethiopia.
Piala Dunia 1966 pun berjalan tanpa satu pun negara Afrika. Tiket sisa “Tiga Benua” itu akhirnya dimenangkan oleh Korea Utara (Asia).
Namun, ironi terbesar menampar FIFA tepat di wajah mereka selama turnamen berlangsung. Siapa Top Skor Piala Dunia 1966? Eusébio. Membela negara apa? Portugal. Lahir di mana? Mozambik, Benua Afrika!
Ya, pemain terbaik di Piala Dunia 1966 secara de facto adalah orang Afrika (yang saat itu Mozambik masih dijajah Portugal).
Fakta ini, ditambah boikot masif dari negara-negara Afrika yang merdeka, membuat FIFA sadar bahwa mereka tidak bisa lagi meremehkan benua hitam tersebut.
Dua tahun usai boikot epik itu, FIFA akhirnya menyerah. Mereka dengan suara bulat mengubah aturan dan akhirnya memberikan Satu Tiket Otomatis Khusus untuk Benua Afrika di Piala Dunia 1970.
Perjuangan Osei Kofi dan generasi emas Afrika tahun 1960-an mungkin harus mengorbankan mimpi mereka bermain di Piala Dunia.
Tapi berkat boikot heroik mereka, hari ini Afrika memiliki 5 tiket reguler di Piala Dunia, dan sepak bola menjadi olahraga global yang sesungguhnya. (*/Tim LembataNews)








