SIAPA sangka bahwa salah satu simbol paling ikonik dalam sejarah musik rock dunia, logo lidah dan bibir The Rolling Stones, lahir dari tangan seorang mahasiswa.
Pada tahun 1970, John Pasche yang saat itu masih menempuh studi di Royal College of Art London terpilih untuk membuat identitas visual bagi band Mick Jagger tersebut. Menariknya, untuk sebuah karya yang kini melegenda, Pasche awalnya hanya dibayar sebesar £50 atau sekitar Rp45 ribu saja pada masa itu.
Logo tersebut terinspirasi dari ekspresi pemberontak dan karakter fisik Mick Jagger yang memiliki bentuk bibir yang sangat khas dan menonjol.
Sejak pertama kali muncul dalam album Sticky Fingers, desain ini langsung meledak dan menjadi representasi dari budaya rebel serta attitude musik rock and roll. Bayaran puluhan ribu rupiah di masa lalu itu kini telah bertransformasi menjadi aset merchandise bernilai jutaan dolar yang tersebar di seluruh dunia.
John Pasche sendiri mungkin tidak pernah menyangka bahwa tugas sampingannya sebagai mahasiswa akan menjadi salah satu ikon budaya pop paling menguntungkan sepanjang masa.
Meskipun nilai ekonomis karyanya telah melambung tinggi, nilai artistik dan sejarahnya tetap menjadi hal yang paling dihargai oleh para penggemar musik di berbagai generasi.
Logo ini mempertegas bahwa sebuah ide sederhana yang dieksekusi dengan karakter kuat bisa bertahan melampaui zaman.
Kisah ini sering dijadikan inspirasi bagi para desainer muda bahwa sebuah bayaran kecil di awal karier bukanlah merupakan penentu kualitas sebuah karya. Keberanian untuk membuat sesuatu yang berbeda dan ikonik adalah kunci utama dalam menciptakan identitas yang abadi.
Kini, logo lidah merah tersebut bukan sekadar gambar, melainkan simbol kebebasan dan semangat pemberontakan yang tetap hidup hingga detik ini. (*/Tim LembataNews)








