PADA bulan Juni 1941, saat tentara Nazi Jerman melancarkan invasi besar-besaran ke Uni Soviet, seorang mahasiswi sejarah berusia 24 tahun bernama Lyudmila Pavlichenko nekat mendatangi kantor perekrutan militer.
Alih-alih menerima posisi aman sebagai perawat palang merah seperti wanita pada umumnya, ia dengan keras kepala menuntut untuk diterjunkan langsung ke garis depan pertempuran. Mengenakan seragam militer pria yang kebesaran dan hanya berbekal sebuah senapan baut Mosin-Nagant, prajurit wanita ini melangkah masuk ke salah satu medan perang paling brutal dalam sejarah umat manusia.
Di tengah hutan lebat dan reruntuhan kota yang hancur, Lyudmila mengubah medan pertempuran menjadi sebuah arena survival thriller yang sangat mencekam. Memanfaatkan dinamika predator dan mangsa secara sempurna, ia tidak menembak secara membabi buta.
Ia akan bersembunyi di dalam parit dan bunker-bunker tanah yang disamarkan dengan sangat rapi, berdiam diri tanpa bergerak atau makan selama belasan jam hanya untuk mengintai targetnya.
Ia menjadi “hantu” yang sangat ditakuti, memburu para komandan dan pasukan infanteri musuh satu per satu. Pasukan Nazi yang frustrasi bahkan sampai menerjunkan puluhan penembak jitu (sniper) elit khusus untuk memburunya, namun Lyudmila justru membalikkan keadaan dan memenangkan 36 duel mematikan melawan para penembak jitu tersebut.
Puncak kehebatannya terjadi pada Pengepungan Sevastopol yang bagaikan neraka. Dalam pertempuran sengit tersebut, bunker pertahanannya dihantam tembakan artileri yang membuat tubuhnya terkena serpihan peluru mortir (shrapnel). Namun, prajurit wanita yang terluka parah ini menolak keras untuk dievakuasi atau menyerah pada rasa sakit. Dengan tubuh bersimbah darah dan wajah yang dipenuhi debu mesiu, ia terus mengokang senjatanya dan mempertahankan posisinya layaknya siluman.
Ia baru berhenti menembak setelah komando tinggi militer secara paksa menariknya keluar menggunakan kapal selam karena ia dianggap terlalu berharga untuk mati. Mengantongi 309 target yang dikonfirmasi tewas, dunia kini mengenalnya dengan julukan yang paling ditakuti: “Lady Death” (Nyonya Maut). (*/Tim LembataNews)







