HARI ini, Kamis, 4 April 2024, segenap warga Kabupaten Lembata dan Nusa Tenggara Timur umumnya memperingati tiga tahun bencana badai Seroja yang telah melululantahkan hampir sebagian wilayah di Flobamorata ini.
Tiga tahun lalu, tepatnya pada malam hari pada Minggu, 4 April 2024 banjir bandang melanda wilayah Lembata. Banjir bandang terbesar dan terparah terjadi di wilayah Ile Ape yang meliputi sejumlah desa di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Nyawa dan harta benda berjatuhan.
Banjir bandang dan badai Seroja kala itu merenggut nyawa manusia. Banjir dari gunung Ile Lewotolok itu merenggut 68 jiwa warga Ile Ape dan Ile Ape Timur. Ada 46 korban meninggal yang ditemukan dan dimakamkan secara layak. Sisanya, 22 orang dinyatakan hilang sampai saat ini.
Selain korban nyawa, fasilitas umum dan rumah warga pun ikut dilululantahkan. Total rumah yang rusak di Kabupaten Lembata sebanyak 604 unit, dengan rincian rusak berat dan hanyut sebanyak 230 unit, dan rusak ringan 68 unit.
Walau kini sudah tiga tahun peringatan bencana, dan warga penyintas sudah mendapatkan kompensasi bantuan perumahan di empat lokasi, tapi air mata duka nan perih itu serasa belum hilang benar. Sakit hati dan trauma atas kehilangan sanak keluarga dan orang-orang terkasih serasa masih dan akan terus membekas.
Di peringatan tiga tahun bencana Seroja, saat ini kitapun kembali merasakan curah hujan dengan intensitas sedang sampai tinggi. Longsor dan banjir terjadi pula di sejumlah wilayah.
Di tengah situasi seperti ini, kewaspadaan dan kesiapsiagaan, terutama di daerah-daerah rawan bencana harus lebih ditingkatkan. Semua stakeholders terkait, juga masyarakat yang tinggal dan bermukim di kawasan zona merah bencana hendaknya tak menganggap remeh peristiwa yang sedang dan akan terjadi ke depan.
Apalagi, prakiraan hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang masih akan terus terjadi hingga 10 April 2024 mendatang. Dengan peningkatan curah hujan tinggi mulai 7 sampai 10 April 2024.
Orang bilang, kalau sudah ada ramalan cuaca seperti ini, malam tidur jangan terlalu nyenyak. Bersiap-siagalah selalu, karena bencana itu datang ibarat pencuri di waktu malam. Ia tak pernah memberikan peringatan dini terlebih dahulu. Ia datang di saat kewaspadaan kita lengah.
Maka, marilah masing-masing kita menjadi peringatan dini untuk diri sendiri dan tidak hanya bergantung kepada orang lain, apalagi hanya mempersalahkan pihak-pihak berwenang ketika kebencanaan terjadi.
Waspadalah…… Waspadalah……








