BRASIL – KEHIDUPAN dan kematian adalah misteri. Jalan hidup seorang anak manusia tak ada yang bisa meramalnya. Demikianlah perjalanan hidup seorang biarawan yang begitu tulus memberi dirinya untuk melayani orang sakit dan miskin.
Ia adalah Suster Dulce yang di tarikan nafas kehidupannya masih memohon agar mereka mencabut alat bantu pernapasan oksigennya dan memberikannya kepada orang lain.
Permintaannya membuat para dokter berdiri terpaku. Paru-paru Suster Dulce telah hancur. Tanpa alat itu, ia akan meninggal dalam beberapa menit. Tetapi biarawati berusia 77 tahun ini tidak meminta—ia bersikeras. Pasien lain lebih membutuhkannya.
Ini adalah wanita yang telah menghabiskan enam dekade tanpa memiliki apa pun. Sekarang ia ingin memberikan napas terakhirnya.
Semuanya dimulai di tempat yang tidak akan dimasuki orang lain.
Salvador, Brasil, 1933. Dulce baru berusia delapan belas tahun ketika ia mengucapkan sumpah sebagai biarawati Katolik. Biara menugaskannya untuk mengajar anak-anak dari keluarga berada di sekolah mereka. Pekerjaan yang aman. Pekerjaan yang terhormat.
Tetapi ia tidak bisa berhenti melihat mereka.
Orang-orang yang sekarat di jalanan. Orang sakit yang tidak punya tempat tujuan. Mayat-mayat meringkuk di ambang pintu yang dilewati pejalan kaki tanpa melihat ke bawah.
Jadi ia mulai membawa mereka pulang.
Kandang ayam yang terbengkalai di belakang biara itu menjadi rumah sakit yang paling tidak terduga di Brasil. Ia membawa orang-orang yang dipenuhi luka infeksi. Para pria tunawisma yang demam. Para wanita yang telah dibuang masyarakat.
Para biarawati lainnya merasa ngeri. “Kau membawa penyakit ke rumah kami!”
Dulce terus membasuh luka dan memberi makan mulut-mulut yang belum makan selama berhari-hari.
Kabar menyebar di favela seperti api. Ada seorang biarawati yang tidak pernah menolak siapa pun. Tidak peduli seberapa sakitnya. Tidak peduli seberapa miskinnya. Tidak peduli seberapa parahnya.
Mereka datang bergelombang. Ratusan. Kemudian ribuan. Kandang ayam tidak dapat menampung mereka semua.
Suster Dulce membutuhkan obat-obatan, tempat tidur, dokter, uang. Dia tidak memiliki semua itu.
Ia jadi remaja pemalu yang benar-benar tidak memiliki apa pun ini melakukan hal yang mustahil.
Dia menjadi pengemis terbesar yang pernah dilihat Brasil.
Dia masuk ke kantor-kantor pengusaha kaya. Dia menghentikan para pekerja di jalan. Dia mengetuk pintu di lingkungan kaya. Tidak meminta untuk dirinya sendiri—selalu untuk mereka. Mereka yang terlupakan yang sekarat sendirian.
Keyakinannya sangat kuat. Uang mulai mengalir masuk. Sumbangan kecil pada awalnya. Kemudian yang lebih besar. Kemudian cukup untuk mewujudkan mimpi yang mustahil.
Pada tahun 1959, ia meyakinkan para pejabat kota untuk menyumbangkan sebuah bangunan pasar yang terbengkalai. Dengan bahan-bahan sumbangan dan tenaga sukarelawan, ia mengubahnya menjadi Rumah Sakit Santo Antônio. Sebuah tempat di mana orang-orang termiskin di Brasil dapat menerima perawatan medis tanpa membayar sepeser pun.
Bangunan itu runtuh. Peralatan langka. Hanya sedikit dokter terlatih yang mau bekerja di sana.
Suster Dulce bekerja delapan belas jam sehari, setiap hari. Ia secara pribadi memandikan pasien yang terlalu lemah untuk bergerak. Mengganti perban pada luka yang terinfeksi. Memegang tangan orang yang sekarat pada pukul 3 pagi ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Rumah sakit itu berkembang. Kemudian panti asuhan untuk bayi-bayi terlantar. Panti jompo untuk lansia tanpa keluarga. Pusat-pusat untuk penyandang disabilitas yang coba diabaikan oleh masyarakat.
Pada tahun 1980-an, jaringannya melayani lebih dari 3.000 orang setiap hari.
Tetapi Suster Dulce sendiri? Ia tidak memiliki apa pun.
Hanya satu jubah usang. Tidak ada tempat tidur—ia tidur tegak di kursi kayu karena tunawisma tidur di atas beton. Ia makan sisa-sisa makanan yang tersisa setelah semua orang diberi makan.
Para pengunjung terkejut. Wanita ini mengendalikan fasilitas senilai jutaan dolar. Dia bisa mendapatkan kenyamanan apa pun yang diinginkannya.
Namun, dia tidak menginginkan apa pun kecuali melayani.
Pekerjaan itu menghancurkan tubuhnya. Puluhan tahun menghirup udara yang terkontaminasi penyakit di bangsal rumah sakit yang penuh sesak telah merusak paru-parunya. Kelelahan menjadi kondisi permanennya. Dia sering pingsan, lalu bangkit dan kembali bekerja.
“Suster, Anda harus istirahat.”
“Bagaimana saya bisa istirahat ketika mereka menderita?”
Di usia tujuh puluhan, dia membutuhkan oksigen tambahan hanya untuk berfungsi. Namun dia menolak untuk berhenti mengunjungi pasien. Menolak untuk sedikit pun mengurangi kecepatannya.
Brasil akhirnya memahami apa yang hidup di antara mereka. Biarawati kecil ini telah menjadi Malaikat Bahia.
Ketika Paus Yohanes Paulus II berkunjung pada tahun 1980, dia secara khusus datang untuk bertemu dengannya. Dia menangis ketika melihat pekerjaannya.
Nominasi Hadiah Nobel Perdamaian pun menyusul. Pengakuan internasional mengalir deras.
Dia tidak peduli dengan semua itu.
“Saya hanya melakukan apa yang Tuhan minta dari kita semua,” katanya.
Suster Dulce jadi mutiara dari Tuhan yang memancarkan kasih Tuhan ditengah dunia yang menderita.
Seperti itulah seorang pengikut Kristus yang membawa harum nama Yesus. (*/Tim LembataNews)







