PERISTIWA tragis yang menimpa anak berusia sepuluh tahun di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menghentak kesadaran semua kalangan. Di berbagai akun media sosial, diskusi-diskusi para pejabat maupun rakyat jelata, topik ini hangat diperbincangkan. Apalagi, alasan bunuh diri karena uang sepuluh ribu rupiah. Anak usia sepuluh tahun dan uang sepuluh ribu. Di usianya yang begitu beliau, ia tak menuntut banyak, hanya sepuluh ribu rupiah untuk buku tulis dan pena. Ia tidak meminta seratus ribu atau sejuta. Hanya sepuluh ribu. Tapi hanya sepuluh ribu itu, nyawa ia pertaruhkan. Sepuluh ribu mengakhiri usianya yang baru sepuluh tahun.
Tragis nian. Sepuluh ribu rupiah bagi kami rakyat jelata adalah nyawa. Padahal, sepuluh ribu rupiah bagi para pejabat di negeri ini adalah angka yang tidak pernah mereka ingat walau hanya sejenak. Di benak pejabat negara Konoha ini, hanya angka ratusan juta, miliaran, dan triliunan yang ada di pikiran mereka. Tak pernah terbayang di benak mereka bahwa ada rakyatnya yang hanya sepuluh ribu rupiah pun, mereka harus pertaruhkan nyawa.
Negara ini serasa tak adil. Orang-orang di kelas bawah seakan tak terjamah tangan pemimpinnya. Andaikan program nasional ciptaan Presiden Prabowo Subianto yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) itu sedari awal uangnya digelontorkan untuk orangtua anak yang siapkan makan bergizi bagi anak-anak mereka, mungkin saja sang ibu ketika anaknya meminta uang sepuluh ribu rupiah untuk beli buku dan pena bisaerogoh dari uang MBG agar bisa mengatasi problem buku dan pena.
Tapi yah, itu hanya pengandaian. Program MBG masih berjalan dengan triliunan anggaran yang “dihamburkan” ke dapur dapur penyedia layanan MBG.
Ada rekam seperjuangan saya bilang begini, sekarang ini di NTT, rata-rata guru piara babi. Babi milik para guru SD dan SMP ini sekarang gemuk gemuk. Babi gemuk karena makan MBG. Pertanyaannya, kenapa makanan MBG bisa jadi makanan babi. Mungkin karena makanan yang disajikan sudah basi, mungkin karena makanannya datang tidak tepat waktu, mungkin juga karena makanannya tidak sesuai selera atau tidak disukai anak-anak.
Kalau alasan yang terakhir ini, maka kalau MBG dikasih uangnya kepada orangtua yang menyiapkan makanan bagi anak-anak, tentunya orangtua lebih tahu selera dan makanan yang disukai anak-anak mereka.
Tapi sudahlah, itu tak perlu diperpanjang, karena toh semuanya harus kembali kepada pemimpin negeri ini yang bisa mengambil keputusan.
Kembali ke masalah anak sepuluh tahun yang meninggal, pemimpin di daerah Nusa Tenggara Timur ini pun tersentak. Gubernur pun murka tatkala tahu Bupati bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Ngada belum ada satupun yang turun langsung sekadar menyampaikan keprihatinan atas peristiwa tragis ini. Gubernur murka karena peristiwa ini seakan menampar semua stakeholders di daerah ini, baik pemerintah di semua tingkatan sampai ke RT, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, tokoh muda, dan tokoh-tokoh lainnya.
Peristiwa tragis ini telah membangkitkan kesadaran semua orang, bahwa di sekitar saya masih ada yang susah. Bahwa di sekitar saya masih ada yang uang sepuluh ribu rupiah saja pun tidak ada. Membangkitkan kesadaran bahwa di daerah bahkan negara saya ini masalah pendidikan ternyata masih ada. Akan tetapi, kesadaran yang menghentak itu sudah terlambat.
Selamat ini kita seolah terbuai oleh laporan bahwa angka kemiskinan kita di NTat dan kabupaten-kabupaten sudah mulai alami penurunan. Terbuai oleh angka partisipasi pendidikan yang terus meningkat. Tanpa menelisik, permasalahan dan mengatasi permasalahan itu.
Peristiwa sepuluh ribu rupiah merenggut nyawa anak sepuluh tahun di Ngada menyadarkan kita semua bahwa permasalahan dasar kemiskinan di daerah ini belum bisa diurus tuntas. Permasalahan dasar soal pendidikan juga belum diurus tuntas.
Semoga peristiwa ini membangkitkan kembali kepedulian semua kita untuk kembali menelisik permasalahan yang ada di daerah ini, dan serius mengatasinya, agar jangan ada lagi cerita miris menimpa anak cucu penerus harapan bangsa. (Tim LembataNews)








