LEWOLEBA – ANAK-anak berpakaian serba hitam dengan peci tampak duduk berkelompok di depan salah satu rumah yang ada di gerbang masuk Pondok Pesantren Al-Fatah Waowala, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata pagi itu saat mobil yang ditumpangi sejumlah jurnalis memasuki area Ponpes. Mereka berlarian mendahului kami seolah mau menunjukan tempat kami akan berkumpul. Sabtu, 31 Januari 2026, Forum Jurnalis Lembata atau yang biasa disingkat FJL berkunjung ke tempat ini sekadar berbagi dari ketiadaan.
Bangunan-bangunan sederhana berdiri saling berdekatan. Ada ruang kelas, ada penginapan para santri, ada rumah untuk para ustad.
Dipimpin Ketua FJL Alex Taum dariedia Indonesia/Ada news), awak media yang hari-hari bergelut di tanah Lepan Batan berniat berbagi kasih bersama para santri penghuni Ponpes Al-Fatah. Walau dari ketiadaan, mereka berjuang mencari cara mengumpulkan kepedulian dari sejumlah donatur untuk dilanjutkan kepada anak-anak penerus masa depan bangsa ini
Ada Sekretaris FJL Kristianus Boro (Suluh Nusa), Bendahara Hiero Bokilia (VictoryNews/LembataNews), Ketua Panitia HPN Mikael Kedang (AktualitaNTT), serta sejumlah anggota lainnya yakni Ben Asan (Kabar Rakyat Terkini), Ahmad Mas (Jurnal Polisi), Asiz Usman (AksaraNews), Roy Rasgulo (LidikNews), Teddy Making (Katawarga.id), Ivan Apelaby (Harianwarga.id), Stenly Leuweheq (MediaSurya.com), dan Bedos Making (Swara Lombpen yang dipercayakan sebagai Koordinator Pelaksana kegiatan HPN 2026.
Ada yang menumpang mobil yang dikemudikan “supir tembak” bus Ende Maumere Steny Leuweheq (itu saya kutip pernyataan Om Benki Assan. Jangan marah e reu). Ada juga yang mengendarai sepeda motor.
Di depan Mushola Ponpes Al-Fatah, tampak kursi sudah berjejer rapi. Mushola kecil namun megah ini dibangun aktris nasional, Prilly Latuconsina, melalui kerabatnya yang pernah bertugas sebagai Kajari Lembata, Muhammad Azrizal.
Ustad Abdurahman Lagoday dan Ustad Hafid Nai telah menanti di sana. Senyum sumringah dan jabat erat tangan sejuk keduanya ketika menyalami satu persatu kami yang turun dari mobil dan berjalan menuju depan Masjid.
Anak-anak santri sigap membantu Ivan menurunkan barang bawaan kami dari mobil dan mengangkatnya ke depan masjid. Ada yang mengangkat telur, ada yang memikul beras, ada yang menjinjing jerigen minyak, ada pula yang mengangkat dos air mineral.
Obrolan santai penuh keakraban pun kami lakukan di bawah pohon Bidara sambil menikmati Snack yang disumbang Ketua DPD Partai NasDem Lembata Yuni Damayanti dan dari Eghber Balukh, Kepala Cabang Bank NTT Lewoleba.
Pondok Pesantren Al-Fatah di Desa Waowala ini berdiri di atas bukit yang oleh para ustad dinamai Al Muhajirun. Di sana, di antara deretan pohon pahlawan putih yang menjulang gagah, berdiri Pondok Pesantren Al Fatah—sebuah oase pendidikan yang tumbuh dari tekad dan keikhlasan.
Di bukit ini, segala sesuatu dibangun dari niat baik. Bahkan sebuah kandang ayam pernah disulap menjadi ruang kelas demi memastikan para santri tetap bisa belajar.
Ketika Forum Jurnalis Lembata (FJL) berkunjung menyerahkan tali asih, sambutan dari Ustad Abdurahman Lagoday, Ustad Hafid Nai,.dan para santri terasa begitu hangat. Mereka kini memasuki angkatan ketiga—tanda bahwa pesantren ini bukan lagi percobaan, melainkan harapan yang sedang tumbuh.

“Kami berterima kasih atas kesediaan teman-teman jurnalis yang sudah meluangkan waktu datang dan melihat langsung kondisi kami di sini. Beginilah keadaan kami apa adanya,” ungkap Ustadz Abdurrahman.
Ia menjelaskan, jumlah santri Pondok Pesantren Al-Fatah saat ini sebanyak 22 orang, terdiri dari santri putra dan putri yang biasa disapa Muslimin dan Muslimat yang berasal dari berbagai wilayah, seperti Ile Ape, Kedang, Kota Lewoleba, Nagawutung hingga Adonara.
Usai disuguhi santap siang bersama, Ketua FJL Alexander Taum bersama Ben Asan juga memberikan materi dan motivasi kepada para santri, tentang pentingnya pendidikan, literasi, serta peran pers dalam kehidupan bermasyarakat.
Lahir dari Semangat Hijrah
Pesantren Al-Fatah Waowala resmi berdiri pada tahun 2018 bersamaan dengan pelaksanaan tablig akbar yang dihadiri Kementerian Agama, MUI, tokoh masyarakat, hingga 800 jamaah.
Ustad Abdurahman Lagoday menerangkan, Pondok ini berdiri di atas lahan hibah seluas 8 hektare, yang kemudian sah masuk dalam wilayah Desa Waowala.
Perjalanan awalnya jauh dari mudah. Namun perhatian pemerintah perlahan berdatangan. Kemenag bahkan sudah enam kali berkunjung, disusul Dinas Sosial dan beberapa tokoh publik seperti Viktor Mado Watun.
Yang menarik, seluruh pembangunan dilakukan tanpa proposal. Tanpa permintaan resmi. Para donatur datang sendiri, mengirim bantuan bahkan tanpa nama, sebagian melalui jasa ekspedisi.
“Barang siapa bertakwa, Allah akan mendatangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Itu yang kami alami. Anak-anak di sini belajar gratis. Konsumsi habis, pasti ada gantinya,” tutur Ustad Abdurahman Lagoday, salah satu pengasuh.
Gerak Cepat dalam Kemanusiaan
Ketika banjir bandang melanda wilayah Ile Ape, Kabupaten Lembata, Ponpes Al-Fatah bergerak tanpa menunggu komando. Sebelum bantuan pemerintah turun, para pengasuh dan santri sudah lebih dulu membuka posko bantuan di Kota Lewoleba.
“Bencana kemanusiaan tidak mengenal sekat. Kita bergerak karena panggilan kemanusiaan,” kata Ustad Abdurahman Lagoday yang diamini Ustad Hafid Nai.
Dari bukit sunyi di Waowala, mereka melangkah ke pusat kota membawa semangat yang sama: melayani.

Pendidikan Moderat di Atas Bukit
Saat ini pesantren memiliki tujuh ustaz–ustazah, dua di antaranya tinggal di lokasi. Pendidikan setara MTs atau SMP dengan masa belajar tiga tahun. Kurikulumnya mengikuti standar Kemenag, namun diperkaya pembinaan khas pesantren:Tahfiz Al-Qur’an Bahasa Arab, Kultum tiga bahasa.
Beberapa santri telah menorehkan prestasi hingga tingkat nasional. Ada yang melanjutkan pendidikan ke Pulau Jawa. Mereka datang dari berbagai penjuru Lembata: Adonara Barat, Kedang, Meko, Waowala, hingga Amakaka.
Yang lebih penting, pesantren ini menegakkan nilai moderasi.
“Ekstremisme tidak dibenarkan dalam Islam. Kami mengajarkan kebenaran dan moderasi,” tegas Ustad Abdurahman Lagoday dan Ustad Hafid Nai, pengasuh Pondok.
Fasilitas Terbatas, Semangat Tak Berbatas
Mulai 2021, ruang belajar dibangun dengan gotong royong. Finishing-nya kemudian dibantu PLN Nusra. Mushola baru rampung pada 2023 berkat bantuan mantan Kajari Lembata dan dukungan artis Prilly Latuconsina.
Kini pesantren sedang membangun asrama putri secara swadaya. Ada pula lahan kebun yang dikelola bersama santri untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
“Kalau ada kemauan, akan ada seribu jalan. Tetapi kalau tidak ada kemauan, akan ada seribu alasan”, begitu moto para pembina.

Berlari Mengejar Legalitas
Pengurus saat ini berupaya melengkapi dokumen izin operasional, terutama legalitas IMB yang masih kurang. Meski begitu, semangat mereka tidak pernah redup.
Ponpes Al-Fatah Waowala merupakan cabang ke-27 dari pusatnya di Cilengsi, Jawa Barat, diasuh oleh dua penggerak utama: Ustad Abdurahman Lagoday, A.Ag dan Ustad Hafid Nai, S.Sos. Di tangan merekalah cahaya dari bukit Al Muhajirun terus menyala—meski kecil, tapi cukup menerangi masa depan anak-anak dari pelosok Lembata.
Cahaya Itu Terus Menyala
Dengan segala keterbatasan, Ponpes Al Fatah Waowala berdiri sebagai bukti bahwa pendidikan tidak selalu lahir dari gedung megah, tapi dari hati yang ingin mengabdi. Dari orang-orang yang yakin bahwa “ikhlas” adalah daya yang lebih kuat daripada modal apa pun.
Dari bukit sunyi di Waowala, sebuah pesan sederhana mengalir: Harapan tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu seseorang untuk menjaganya tetap menyala. (*/Tim LembataNews)








