BALAURING — SAFARI Ramadan di Masjid Al-Munawwarah Balauring berlangsung dalam suasana yang lebih hening dan reflektif. Cahaya lampu masjid memantul lembut di dinding, sementara jamaah memenuhi shaf dengan khusyuk.
Malam itu, kepemimpinan kegiatan sepenuhnya berada di tangan Wakil Bupati Lembata, H. Muhamad Nasir, setelah Bupati berpamitan usai Buka Puasa bersama.
Wabup Nasir kemudian menunaikan shalat isya dan tarawih berjamaah bersama umat Muslim setempat. Seusai shalat, ia menyampaikan kultum yang menekankan tiga pokok utama: iman sebagai fondasi pribadi, syukur sebagai sikap hidup, dan persatuan sebagai kekuatan bangsa.
Mengawali renungannya, Wakil Bupati mengajak jamaah untuk melihat kembali cara para pendiri bangsa membangun Indonesia. Ia menyinggung pemikiran Soekarno yang menurutnya tidak hanya berpijak pada semangat kebangsaan, tetapi juga pada pola pikir sistematis dan rasional.
“Dalam matematika, pecahan dengan penyebut berbeda tidak bisa langsung dijumlahkan. Setengah dan seperempat harus disamakan penyebutnya terlebih dahulu agar menjadi satu kesatuan,” ujarnya.
Analogi tersebut kemudian ia kaitkan dengan kondisi Indonesia yang lahir dari beragam “pecahan”: perbedaan agama, suku, kepentingan politik, ekonomi, hingga cara pandang. Tanpa titik temu, perbedaan akan melahirkan benturan. Menurutnya, titik temu itu adalah Pancasila yang menjadi penyebut bersama seluruh elemen bangsa.
Wakil Bupati juga menyinggung kontribusi ilmuwan Muslim, Muhammad ibnu Musa al-Khwarizmi, yang pemikirannya menjadi dasar konsep algoritma dalam sistem digital modern. Ia menekankan bahwa peradaban dibangun melalui keteraturan berpikir dan kedewasaan sikap, bukan oleh emosi yang tidak terkendali.



Dalam konteks Ramadhan, Wakil Bupati mengajak jamaah untuk kembali memahami makna iman. Ia menegaskan bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan kesadaran yang melahirkan syukur dan tanggung jawab.
“Syukur bukan hanya ucapan, tetapi kesadaran bathin bahwa semua yang kita miliki adalah pemberian Allah. Kita wajib berusaha, namun hasil akhirnya adalah hak prerogatif-Nya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan orang tua, memelihara silaturahmi, serta memegang amanah dalam rumah tangga. Menurutnya, tanggung jawab kepemimpinan dalam keluarga, khususnya bagi laki-laki, merupakan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Lebih lanjut, Wakil Bupati menekankan bahwa hidayah merupakan anugerah yang tidak otomatis dimiliki setiap orang, bahkan oleh mereka yang memiliki kedekatan biologis dengan para nabi. Ia mencontohkan kisah keluarga para nabi sebagai pelajaran bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh hubungan darah, melainkan oleh iman.
Menutup kultumnya, Wakil Bupati mengajak seluruh jamaah menjadikan Ramadhan sebagai momentum koreksi diri. Ia mengingatkan bahwa godaan seringkali datang secara halus melalui kesibukan, ambisi duniawi, atau kelalaian yang dianggap biasa.
“Yang paling mahal dalam hidup ini bukan harta atau jabatan, melainkan hidayah. Mari kita jaga iman, jaga syukur, dan jaga persatuan,” pungkasnya. (*/Tim LembataNews)








