THERESA Kachindamoto dikenal sebagai salah satu pemimpin adat paling berpengaruh di Malawi karena keberaniannya melawan praktik pernikahan anak yang telah mengakar kuat dalam budaya lokal. Ia menjabat sebagai kepala adat senior di Distrik Dedza dan memimpin wilayah dengan populasi ratusan ribu jiwa. Perjuangannya melawan pernikahan anak dimulai sekitar tahun 2015 dan berlangsung terus selama beberapa tahun berikutnya, dengan dampak besar bagi kehidupan ribuan anak perempuan.
Malawi selama bertahun tahun termasuk negara dengan tingkat pernikahan anak tertinggi di dunia. Banyak anak perempuan dinikahkan sebelum usia 18 bahkan sebelum usia 15. Praktik ini sering dibenarkan oleh hukum adat, tekanan ekonomi, serta norma sosial yang menganggap pernikahan sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Dampaknya sangat serius, mulai dari putus sekolah, kehamilan usia dini, hingga risiko kesehatan dan kekerasan.
Theresa Kachindamoto mengambil langkah tegas dengan menggunakan kewenangan tradisionalnya untuk membatalkan pernikahan anak yang sudah terjadi. Ia memanggil para kepala desa di wilayah kekuasaannya dan mewajibkan mereka menghentikan praktik tersebut. Kepala desa yang menolak atau tidak patuh diberhentikan dari jabatan mereka sampai bersedia mengikuti aturan baru. Tindakan ini menimbulkan perlawanan, kritik, bahkan ancaman, namun ia tetap melanjutkan perjuangannya.
Dalam beberapa tahun, ribuan pernikahan anak berhasil dibatalkan. Anak perempuan yang telah menikah dikembalikan ke keluarga dan didorong untuk kembali bersekolah. Theresa tidak hanya menghentikan pernikahan, tetapi juga berusaha memastikan masa depan anak anak tersebut tetap terjaga melalui pendidikan. Ia bekerja sama dengan guru, relawan, dan organisasi sosial untuk membantu biaya sekolah dan memastikan anak anak tidak kembali dinikahkan.
Selain melawan pernikahan anak, Theresa Kachindamoto juga menghentikan praktik inisiasi seksual tradisional yang melibatkan anak di bawah umur. Ritual ini sering kali membahayakan kesehatan fisik dan mental anak perempuan, serta membuka risiko penyakit, pelecehan, dan kekerasan. Dengan melarang praktik tersebut, ia memperluas perlindungan terhadap hak anak dan keselamatan perempuan muda di komunitasnya.
Keberaniannya menarik perhatian dunia internasional. Ia menerima berbagai penghargaan dan pengakuan dari organisasi global, termasuk Perserikatan Bangsa Bangsa, sebagai contoh kepemimpinan berbasis nilai kemanusiaan. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak pemimpin adat di Afrika dan wilayah lain untuk menggunakan kekuasaan tradisional sebagai alat perubahan sosial.
Theresa Kachindamoto meninggal dunia pada Agustus 2025, namun warisannya tetap hidup. Ribuan anak perempuan yang kini dapat melanjutkan pendidikan, memiliki pilihan hidup, dan terbebas dari pernikahan dini menjadi bukti nyata dampak kepemimpinannya. Kisahnya menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari satu orang yang berani melawan norma tidak adil demi masa depan generasi berikutnya. (Cerita Sejarah Dunia/Tim LembataNews)








