PADA tahun 1887, di kota New York, seorang jurnalis muda berusia 23 tahun mengambil sebuah keputusan yang hanya sedikit orang berani mengambilnya. Nama aslinya adalah Elizabeth Jane Cochran, tetapi dunia akan mengenalnya dengan nama samaran profesionalnya, Nellie Bly.
Dikutip dari laman FB Positif, menggambarkan Nellie Bly berpura-pura mengalami gangguan mental. Ia berhasil membuat dirinya dirawat di Women’s Lunatic Asylum di Blackwell’s Island, sebuah institusi yang hampir tidak ada seorang pun keluar darinya.
Kurang dari dua hari sudah cukup bagi seorang hakim dan beberapa dokter untuk menyatakannya “gila” setelah evaluasi yang dangkal. Tanpa pemeriksaan ketat atau bukti nyata, ia dikirim ke rumah sakit jiwa, menunjukkan betapa mudahnya, pada masa itu, kehilangan kebebasan hanya karena menjadi perempuan dan rentan.
Nellie Bly tidak sakit. Semua itu adalah bagian dari sebuah investigasi terselubung untuk surat kabar New York World.
Selama 10 hari, ia merasakan langsung kondisi di tempat itu dan menemukan sebuah kenyataan yang mengerikan: pasien-pasien yang disiksa, kamar mandi dengan air es, makanan yang sudah rusak, pemukulan, kelalaian medis, dan penelantaran ekstrem.
Banyak perempuan tidak menderita gangguan mental apa pun; mereka adalah para imigran yang tidak berbicara bahasa Inggris, ditelantarkan di sana tanpa kemungkinan untuk membela diri.
Hal yang paling menggelisahkan adalah penemuan bahwa, sekali diberi label “gila”, berperilaku waras justru semakin menguatkan diagnosis tersebut. Tidak ada yang mempercayainya.
Akhirnya, surat kabar itu mengirim seorang pengacara untuk mengupayakan pembebasannya.
Ketika laporannya, yang kemudian diterbitkan dengan judul “Ten Days in a Mad-House”, muncul ke permukaan, kota New York dibuat terkejut.
Skandal itu memicu investigasi resmi, peningkatan signifikan anggaran untuk rumah sakit jiwa, dan reformasi yang memperbaiki kondisi para pasien perempuan.
Nellie Bly tidak hanya membongkar sebuah sistem yang brutal; ia juga menginspirasi tokoh-tokoh dan arketipe dalam dunia film dan fiksi, terutama sosok jurnalis pemberani yang menyusup untuk mengungkap berbagai penyalahgunaan dari dalam. (Sumber Laman FB Positif/Tim LembataNews)








