KISAH Sang Kapten yang Membangun Stadion Demi Masa Depan, Bukan Demi Nama
Ada cerita yang lahir dari ruang rapat, dan ada cerita yang lahir dari ruang hati. Kisah yang diceritakan kae Gusti Sigasare tentang almarhum Ir. Marselinus Petu, Sang Kapten Stadion Marilonga : sebuah kisah yang tidak dibangun oleh beton dan besi, tetapi oleh luka masa kecil, mimpi yang membara, dan cinta kepada tanah sendiri.
Ketika Renovasi Stadion Menjadi Renovasi Martabat
Sekitar tahun 2015, setelah ETMC Maumere, Ende ditunjuk sebagai tuan rumah ETMC 2017. Momentum itu menjadi titik balik. Pemda mulai merancang renovasi Stadion Marilonga, dan sang arsitek utama bukanlah teknisi atau kontraktor—melainkan bupatinya sendiri: alm. Marsel Petu.
Tribun ekonomi diperluas hingga mampu menampung lebih dari 5.000 orang. Rumput direncanakan ulang, lampu stadion dipersiapkan, dan wajah Marilonga dipoles hingga tampil seperti “seorang pria tampan dan gagah”, begitu kata kae Gusti.
Namun, alasan di balik renovasi itu jauh lebih dalam daripada sekadar menyambut turnamen.
Alasan itu bermula dari seorang anak kecil di lapangan berkerikil, puluhan tahun lalu.
—
KISAH YANG DIUNGKAPKAN SORANG SAHABAT
Dalam perjumpaan di Kupang, dengan gaya khasnya, almarhum Marsel berkata kepada kae Gusti:
> “Gusti e… sejak saya kecil sampe jadi bupati ni… main bola di Ende ni selalu model begini. Rumput ndak ada. Kalau mau main, panggil tangki siram. Kick-off jam 2, jam 5 wasit sudah tiup… gelap. Pemain kita kuat e…”
Kalimat itu bukan keluhan. Itu luka lama yang masih membekas.
Ia tahu persis sensasinya jatuh di lapangan kerikil—bukan hanya sakit di kulit, tapi sakit di mimpi.
Ia tahu betul bagaimana keterbatasan membuat talenta besar terlihat kecil.
Ia tahu bahwa sepakbola NTT punya skill, tapi tidak punya panggung.
Maka ia berkata dengan tekad yang tak bisa ditawar:
“Saya tidak mau lagi anak-anak kita main seperti jaman kita dulu. Saya akan ganti rumput. Saya pasang lampu. Saya mau mereka main malam.”
Saya mau rubah sepakbola NTT mulai dari Ende.”
Dan saat kae Gusti menjawab “Saya dukung kae”, Marsel hanya menegaskan:
> “Kau cerita suda di orang-orang… El Tari Cup di Ende main malam.”
Itulah janji seorang Kapten.
Janji yang tidak diucapkan di mimbar, tetapi diobrolkan pada sahabat—dan justru itulah yang paling jujur.
—
MALAM KETIKA LAMPU PERTAMA DINYALAKAN
Renovasi selesai. Marilonga berdiri dengan standar yang tak pernah terbayang sebelumnya di NTT.
Pada malam pembukaan ETMC 2017, ketika rombongan gubernur memasuki stadion, ribuan orang berdesakan di pintu. Di tengah hiruk pikuk itu, seorang mama berteriak:
“Pak bupati, kami tidak masuk ni!”
Dan pada saat itu, Kapten Marilonga meneteskan air mata.
Dalam hatinya ia berkata: “Saya bangun stadion ini untuk kamu… tapi kamu tidak bisa masuk. Saya minta maaf.”
Air mata itu bukan milik seorang pejabat—itu air mata dari seorang anak kampung yang ingin semua orang merasakan apa yang dulu ia tidak dapatkan.
Dan kemudian, ketika lampu stadion menyala, terjadi sesuatu yang tak pernah terlupakan:
Gubernur Frans Lebu Raya berdiri. Ia memberi hormat.
Ia memeluk Marsel sambil berkata: “Terima kasih pak bupati… sudah buat stadion ini untuk anak-anak NTT.”
Farry Francis menyusul memberi penghormatan yang sama.
Dan malam itu, Marilonga tidak hanya bersinar—martabat sepakbola NTT terangkat.
—
**Mengapa Kisah Ini Layak Dikenang?**
Karena di tengah dunia yang sering dipenuhi pemimpin yang mengejar popularitas, ada satu pemimpin yang bekerja dalam diam, tetapi hasilnya bergema hingga hari ini.
Karena sepakbola NTT membutuhkan panggung, dan panggung itu dibangun dari keringat, kesadaran masa kecil, dan cinta seorang Kapten kepada generasinya.
Karena warisan terbesar bukan bangunan megah, tetapi kesempatan yang diberikan pada anak-anak untuk bermain di tempat yang layak.
Dan karena momen ketika lampu Marilonga menyala bukan sekadar seremoni—itu adalah pengumuman kepada dunia bahwa NTT tidak lagi bermain dalam gelap.
PENUTUP
Marilonga Adalah Air Mata yang Menjadi Cahaya. Kisah yang diceritakan kae Gusti Sigasare ini bukan nostalgia. Ini adalah bukti bahwa mimpi masa kecil bisa mengubah arah sebuah daerah. Bahwa luka bisa menjadi kekuatan.
Bahwa cinta seorang pemimpin kepada rakyatnya bisa mewujudkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Maka biarlah sejarah menulis dengan tinta yang paling cerah: Stadion Marilonga adalah bukti bahwa Kapten Marsel Petu tidak membangun untuk dirinya,tapi untuk masa depan anak-anak NTT.
Dan cahaya lampu yang menyala pada malam itu—adalahlah suara hatinya yang tidak pernah padam. (dikutip dari laman FB Kris Jamrud/Tim LembataNews)








