LEWOLEBA – PROGRAM DREAMS (Disaster Resilience through Education, Adaptation, and Mitigation Strategies) yang sukses diimplementasikan LSM Barakat dan Yayasan IDEP Selaras Alam Bali di Desa Lamawolo dan Waimatan ternyata mendapat atensi positif desa lainnya. Desa Aulesa melalui Fidelis, Kepala Desanya meminta agar jika program itu masih berlanjut, dapat pula menyasar Desa Aulesa.
Hal itu mengemuka dalam workshop dalam rangkaian Festival Tanah Mean di Permukiman Penyintas Tanah Merah, Lembata, Jumat, 7 November 2025.
Pada sesi dialog ini, pemandu kegiatan Kor Sakeng terlebih dahulu mengundang Kepala Desa Waimatan Onesimus Sili Betekeneng dan Kepala Desa Lamawolo Antonius Ngaji menyampaikan testimoni atas program DREAMS yang dilaksanakan Barakat dan IDEP di Tanah Merah.
Seusai menyaksikan film pendek terkait pelaksanaan program DREAMS, Onesimus Sili Betekeneng, Kades Waimatan menjelaskan, Waimatan dan Lamawolo menjadi ruang kolaborasi luar biasa semua pihak yang saling mengisi membangun ketahanan menuju Lembata yang ebih baik.
Barakat dan IDEP, urainya, menitipkan kisah kasih di Lamawolo dan Waimatan. Bence (Benediktus Bedil, Direktur Barakat) sebagai pemilik program dalam sebuah percakapan mengaku prihatin atas kondisi dua desa ini.
Pada 2024 dalam kebingungan memanfaatkan APBDes, Bence hadir menawarkan profram.
“Kami hanya ketemu di jalan. Saya bilang kalau program hanya habis di diskusi di dalam ruangan, saya tolak karena kami butuh pemulihan ekonomi,” kata Onesimus Betekeneng.
Dari diskusi yang dilakukan dan kajian serta membagi kegiatan di dalam gedung dan di luar gedung, akhirnya program berjalan.
Namun, di awal program, sempat kebingungan lokasi kegiatannya, apakah di kampung lama ataukah di Tanah Merah. Mau ke kampung, tapi seolah gunung menolak secara halus.
Akan tetapi, kebingungan itu akhirnya terjawab. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah yang sempit di Tanah Merah, akhirnya bisa menghasilkan aneka tanaman yang ditampilkan di sejumlah stan pada saat festival.
“Dalam perjalanan dengan situasi ini, air mata iringi proses yang ada dan sampai sekarang masih rasakan situasi bencana tapi tetap mulai dengan program yang ada. Tidak hanya dengan dua program tapi diajak dengan apa yang ada di masyarakat yakni tenun ikat. Program ini mulai dari apa yang dimiliki dan mudahkan dalam berproses dan lakukan kegiatan bisa berlanjut di rumah,” katanya.
Ia mengakui bahwa sebelum program berjalan, pekarangan rumah hanya dimanfaatkan untuk kegiatan yang tak bernilai. Namun dengan pemanfaatan pekarangan rumah orang bisa tahu orang Lamawolo dan Waimatan tidak lagi membeli sayur. Orang Bima yang berjualan di perumahan Tanah Merah pun sayurnya tidak dibeli.

Selain itu, masyarakat juga mulai paham tentang pengurangan risiko bencana dan sudah tahu tahapan evakuasi dalam setiap kejadian kebencanaan.
“Masyarakat Waimatan sudah pahami segala proses dan bagaimana manfaatkan pekarangan jadi ketahanan pangan rumah tangga. Dengan program ini ketahanan di dapur dan ketahanan bencana tumbuh di tempat ini dan akan terus jadi kekuatan warga di dua desa ini,” tegas Onesimus Betekeneng bangga.
Program ini, lanjutnya, menjadi pemantik dari Barakat untuk membangkitkan apa yang ada di masyarakat.
“Mimpi saya bagaimana tumbuh di atas batu Wadas dengan apa yang kami miliki, tidak berharap sejauh apa yang kami harap. Dalam situasi terbatas, berpikir bagaimana ekonomi ini tumbuh dari Parekwalang menuju ke Tanah Merah. Simpul ekonomi jadi satu kesatuan dari laut, darat dan udara (pengrajin arak),” tutupnya.
Sementara itu, Antonius Ngaji, Kades Lamawolo mengisahkan, pasca bencana dan warga dipindahkan ke Tanah Merah, masyarakat banyak yang mengeluh karena kondisi di kampung lama dengan di Tanah Merah berbeda jauh.
Lalu, Barakat dan IDEP menawarkan program dan langsung disambut dengan antusias.
“Berbagai pihak baik pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat, serta NGO berperan perhatikan kondisi dan lewat Barakat dan IDEP melalui program DREAMS sangat bantu. Awal Barakat tanya boleh tidak program diterima di desa dan saya nyatakan sangat bahagia program masuk karena sangat membantu masyarakat,” kata Antonius.
Hadirnya program sangat membantu mengatasi setiap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dari program ini, terbentuklah dua kelompok, yang nantinya menjadi pionir bagi masyarakat lainnya yang belum tergabung dalam kelompok.
Ia menerangkan, sebelum program berjalan, air limbah rumah tangga dibuang begitu saja. Pekarangan yang sempit dibiarkan kosong. Dengan hadirnya program kebun pekarangan, pekarangan sempit mulai dimanfaatkan dan air limbah dimanfaatkan untuk menyiram sayur.
“Lahan kosong di pekarangan walau sempit tapi sudah ada hasil. Ini bukti program sangat diterima dua desa ini.
Ada kebun contoh jadi kebun pembelajaran tidak saja untuk kelompok tapi juga masyarakat yang belum gabung dalam kelompok mulai dari pembibitan sampai produksi. Bapak mama bisa saksikan aneka sayuran dan jadi bagian dampingan seperti tenun ikat dan hasil lainnya,” terangnya.
Kesiap siagaan bencana, lanjutnya, juga menjadi aspek penting masyarakat di dua desa. Kendati saat ini sudah berada di lokasi pemukiman, namun ancaman bencana tentu saja tetap ada. Sehingga program pengurangan risiko bencana juga penting dan pemerintah desa sangat merespons dan apresiasi atas program ini dan berkomitmen setelah program selesai akan tetap memberikan dukungan penuh.
Alexander Arakian, anggota DPRD Lembata dari Fraksi PKB, anak tanah Waimatan yang hadir pada kesempatan itu menyatakan, sebagai anggota Dewan dan anak tanah Waimatan, menyampaikan terima kasih kepada warga Muruona dan Waipukang yang karena bencana merasa sebagai saudara telah dengan rela menghibahkan lahan untuk pembangunan permukiman di Tanah Merah.
Ia juga berterima kasih kepada Barakat, yang sejak pasca bencana selalu memberikan perhatian sampai sekarang dan masih terus mendampingi melalui program DREAMS .
Ia berharap, program yang sangat bagus ini tetap dilanjutkan di dua desa ini, bahkan harus disebarkan ke desa-desa lainnya yang sangat membutuhkan pendampingan mitigasi bencana dan peningkatan ekonomi rumah tangga.
“Banyak hal yang didapatkan pasca pendampingan. Dan ada perubahan terutama dalam menghadapi ancaman bencana. Dua desa ini juga bisa jadi fasilitator desa lainnya,” kata Alex Arakian.
Pada kesempatan itu, ia juga menitipkan aspirasi terkait sumur bor untuk kebutuhan air bersih warga di Tanah Merah. Kendati sumur bor dan bak penampung sudah ada, namun belum cukup memadai melayani kebutuhan warga dua desa ini. (Tim LembataNews)








