LEWOLEBA – SEORANG anak perempuan terbaring lemah penuh luka di wajah dan tangan. Ia korban kecelakaan yang dirujuk untuk mendapatkan perawatan di Kupang.
Ia menumpang ambulans dan setibanya di Pelabuhan Laut Lewoleba, Senin, 6 Okober 2025 pagi itu, ia diturunkan dari ambulans dan ditandu menaiki tangga KMP Sabuk Nusantara 108, salah satu kapal Tol Laut, program peninggalan Presiden Joko Widodo yang kini masih setia melayani rute, Lewoleba, Menanga (Flores Timur), Naikliu (TTS), Kupang.
Selain pasien rujukan yang dirujuk menggunakan Tol Laut, tampak pula sejumlah pejabat pimpinan dinas/badan dari Lembata harus menumpang Tol Laut dan kapal ferri untuk ke Kupang pasca penerbangan ke Lembata yang tak tentu.
Pada 12 Oktober 2025 nanti, Kabupaten Lembata memperingati 26 tahun Otonomi Daerah (Otda). Indonesia pun telah merdeka dalam usianya yang ke-80 tahun. Sayangnya, masyarakat yang tinggal di daerah 3T (termiskin, tertinggal, dan terluar) seperti Kabupaten Lembata belum sepenuhnya merdeka. Akses transportasi yang seharusnya kian hari kian dipermudah, ternyata masih belum sesuai harapan.
Jika selama ini Lembata dilayani moda transportasi udara dan laut, namun belakangan jalur penerbangan tak lagi selancar dulu. Lebih banyak cancel-nya. Penyebabnya, erupsi Gunung Api Ile Lewotolok.
Jika lancar, biasanya Lembata yang dilayani perusahaan penerbangan Wings Air di bawah naungan Lion Air, melayani tiga kali penerbangan setiap minggu. Yakni setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Namun sejak Ile Lewotolok rutin meletus, Wing Air lebih banyak cancel-nya daripada lancarnya.
Selain itu, jalur laut yang sebelumnya begitu lancar, kini pun tak sebaik itu. Kapal cepat Chantika Express yang pernah melayani rute Kupang-Lewoleba-Larantuka pergi pulang seminggu dua kali, kini telah hengkang. Khabarnya, armada laut ini sudah pindah ke Halmahera Utara. Sementara kapal Pelni seperti KM Umsini sudah tak lagi berlayar sejak terbakar di Makassar. Kapal penggantinya KM Tidar yang dua minggu sekali masuk Lewoleba pun kini masuk doking. Kapal ferri pun setali tiga uang. Sudah tak serutin dulu lagi melayani akses penumpang dan barang dari Leeoleba ke Kupang.
Lembata seperti kembali ke tahun 1980-an. Transportasi kembali menjadi kendala pergerakan arus penumpang dan barang keluar dari Lembata.
Anggota Komisi 2 DPRD Lembata Jhon Batafor sangat menyayangkan minimnya akses transportasi dari dan ke Lembata ini. Ada sejumlah tamu asing yang hendak ke Lembata terpaksa pulang ke negara asalnya, setelah di-cancel penerbangan ke Lembata tiga kali.
Menurutnya, kehadiran kapal ferri di bawah pengelolaan PT ASDP dan kapal-kapal Tol Laut di bawah pengelolaan PT Pelni memang menjadu alternatif utama masyarakat.
“Pemerintah harus segera ambil langkah menyikapi situasi ini. Penerbangan ke Lembata yang sering cancel sangat merugikan. Kemarin tamu saya tiga orang terpaksa pulang ke negaranya setelah di-cancel tiga kali,” kata Jhon Batafor.
Menurutnya, sulitnya moda transportasi ke Lembata harus menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata. Pemerintah harus memperjuangkan kapal cepat untuk menggantikan transportasi udara yang kian tak jelas saat ini.
Kendala transportasi ini tidak saja berdampak pada terhambatnya arus barang dan penumpang. Tetapi juga menghambat pertumbuhan sektor ekonomi dan arus masuknya wisatawan ke Lembata.
Menumpang KM Sabuk Nusantara 108 mengingatkan kembali kenangan saat kuliah dulu. Berdesakan dengan penumpang lain, berada di antara himpitan barang bawaan para penumpang. Menikmati alunan gelombang laut yang kadang menyenangkan, namun kadang pula memabukkan. Namun, semua itu harus dinikmati untuk bisa mengarungi lautan menuju dermaga impian. Dari Pelabuhan Laut Lewoleba, singgah sebentar di Pelabuhan Menanga di Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur. Beristitahat dan menjejakan kaki sejenak di pulau penuh cendana, yang wanginya kini sudah tak lagi tercium, untuk kemudian melanjutan perjuangan menghadapi ganasnya Laut Sawu menuju Pelabuhan Naikliu di Kabupaten TTS dan kemudian mengakhiri petualangan di Pelabuhan Tenau, Kabupaten Kupang.
Lalu bagaimana nasib para penumpang pasirn rujukan? Berbekal obat, tabung oksigen, dan petugas medis yang mendampingi, mereka ditempatkan di kamar yang ada dan mendapatkan perawatan di sana. Ketika 4 jam KM Sabuk Nusantara 108 berlabuh di Pelabuhan Menanga, para pasien tetap dalam pengawasan tim medis pendamping.
Penumpang pun berjubel. Banyak penumpang yang tak kebagian tempat tidur di dek yang menyiapkan tempat tidur, tampak berhimpitan bersama barang bawaan di lorong dan koridor kapal. Panas terik Pulau Solor seakan tak menyurutkan semangat penumpang Tol Laut ini. Setiap inci dek kapal tak terlewatkan. Barang dan penumpang berdampingan sebelah menyebelah.
Hingga pukul 16.00 saat tali tambat kapal dilepas dari Dermaga Menanga, masih banyak penumpang yang tak kebagian tempat dan harus rela berdesakan. Rela tidur hanya bersandar pada dinding besi kapal, asal dermaga impian bisa dicapai. Malam menggelayut mengantar mimpi para penumpang menuju Pelabuhan Naikliu di Kabupaten TTS. (Tim LembataNews)








